Thursday, March 25, 2010

thumbnail

Pembenihan Ikan Bandeng


1. PENDAHULUAN
Benih bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama
dalam usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan Teknologi budidaya
bandeng di tambakdirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha
budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala
dalam menigkatkan teknologi budidaya bandeng.

Selama ini produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan
budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha
pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan
nener tersebut menjadi sangat penting.

Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam, pengembangan
wilayah, penyediian dukungan terhadap pembangunan perikanan khususnya
dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng di
hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan
penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery
diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat
dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun.

2. PENGERTIAN
Teknologi produksi benih di hatchery telah tersedia dan dapat diterapkan baik
dalam suatu Hatchery Lengkap (HL) maupun Hatchery Sepenggal (HS) seperti
Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Produksi nener di hatchery sepenggal
dapat diandalkan. Karenaresiko kecil, biaya rendah dan hasil memadai.
Hatchery sepenggal sangat cocok dikembangkan di daerah miskin sebagai

salah satu upaya penaggulangan kemiskinan bila dikaitkan dalam pola bapak
angkat dengan hatchery lengkap (HL). Dilain pihak, hatchery lengkap (HL)
dapat diandalkan sebagai produsen benih bandeng (nener) yang bermutu serta
tepat musim, jumlah dan harga.

Usaha pembenihan bandeng di hatchery dapat mengarahkan kegiatan
budidaya menjadi kegiatan yang mapan dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi
alam serta tidak memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Dalam
siklusnya yang utuh, kegiatan budidaya bandeng yang mengandalkan benih
hatchery bahkan dapat mendukung kegiatan pelestarian sumberdaya baik
melalui penurunan terhadap penyian-nyian sumber daya benih species lain
yang biasa terjadi pada penangkapan nener di alam maupun melalui penebaran
di perairan pantai (restocking).

Disisi lain, perkembangan hatchery bandeng di kawasan pantai dapat dijadikan
titk tumbuh kegiatan ekonomi dalam rangka pengembangan wilayah dan
penyerapan tenaga kerja yang mengarah pada pembangunan berwawasan
lingkungan. Pada giliranya, tenaga yang terserap di hatchery itu sendiri selain
berlaku sebagai produsen juga berlaku sebagai kondumen bagi kebutuhan
kegiatan sehari-hari yang dapat mendorong kegiatan ekonomi masyarakat
sekitar hatchery.

3. PERSYARATAN LOKASI
Pemilihan tempat perbenihan bandeng harus mempertimbangkan aspek-aspek
yang berkaitan dengan lokasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persyaratan lokasi adalah sebagai
berikut.

1) Status tanah dalam kaitan dengan peraturan daerah dan jelas sebelum
hatchery dibangun.
2) Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi
persyaratan mutu yang ditentukan;
- Pergantian air minimal; 200 % per hari.
- Suhu air, 26,5-31,0 0C.
- PH; 6,5-8,5.
- Oksigen larut; 3,0-8,5 ppm.
- Alkalinitas 50-500ppm.
- Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran).
- Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.
3) Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang
arus perlu diketahui secara rinci.
4) Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan, rantai makanan,
speciesdominan, keberadaan predator dan kompretitor, serta penyakit
endemik harus diperhatikan karena mam pu mengakibatkan kegagalan
proses produksi.

4. SARANA DAN PRASARANA
1) Sarana Pokok
Fasilitas pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi
adalah bak penampungan air tawar dan air laut, laboratorium basah, bak
pemeliharaa larva, bak pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak
pakan alami.
a. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut.
Bak penampungan air (reservoir) dibangun pada ketinggian sedemikian
rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak
dan sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih).

Sistim pipa pemasukkan dan pembuangan air perlu dibangun pada bak
pemelihara induk, pemeliharaan larva, pemeliharan pakan alami,
laboratorium kering dan basah serta saran lain yang memerlukan air tawar
dan air laut serta udara (aerator).

Laboratorium basah sebaiknya dibangun berdekatan dengan bangunan
pemeliharaan larva dan banguna kultur murni plankton serta diatur
menghadap ke kultur masal plankton dan dilengkapi dengan sistim
pemipaan air tawar, air laut dan udara.

b. Bak Pemeliharaan Induk
Bak pemeliharaan induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat
dengan kedalaman lebih dari 1 meter yang sudut-sudutnya dibuat
lengkung dan dapat diletakkan di luar ruangan langsung menerima
cahaya tanpa dinding.
c. Bak Pemeliharan Telur
Bak perawatan telur terbuat dari akuarium kaca atau  serat kaca dengan
daya tampung lebih dari 2.000.000 butir telur pada kepadatan 10.000 butir
per liter.

d. Bak Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva yang berfungsi juga sebagai bak penetasan telur
dapat terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton, sebaiknya
berwarna agak gelap, berukuran (4x5x1,5) m3 dengan volume 1-10 ton
berbentuk bulat atau bujur sangkar yang sudut-sudutnya dibuat lengkung
dan diletakkan di dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding
balik. Untuk mengatasi penurunan suhu air pada malam hari, bak larva
diberi penutup berupa terval plastik untuk menyangga atap plastik, dapat
digunakan bentangan kayu/bambu.

e. Bak Pemeliharaan Makanan Alami, Kultur Plankton Chlorella sp dan Rotifera

Bak kultur plankton chlorella sp disesuaikan dengan volume bak
pemeliharaan larva yang terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton
ditempatkan di luar ruangan yang dapat langsung mendapat cahaya
matahari. Bak perlu ditutup dengan plastik transparan pada bagian
atasnya agar cahaya juga bisa masuk ke dalam bak untuk melindungi dari
pengaruh air hujan.

Kedalamam bak kultur chlorella sp harus diperhitungkan sedemikian rupa
sehingga penetrasi cahaya matahari dapat dijamin mencapai dasar tangki.
Kedalaman air dalam tangki disarankan tidak melebihi 1 meter atau 0,6 m,
ukuran bak kultur plankton chlorella sp adalah (20 x 25 x 0,6)m3.

Bak kultur rotifera terbuat dari serat kaca maupun konstruksi baton yang
ditempatkan dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding.
Perbandingan antara volume bak chlorella, rotifera dan larva sebaliknya
5:5:1.

2) Sarana Penunjang
Untuk menunjang perbenihan sarana yang diperlukan adalah laboratorium
pakan alami, ruang pompa,air blower, ruang packking, ruang genset,
bengkel, kendaraan roda dua dan roda empat serta gudang (ruang
pentimpanan barang-barang opersional) harus tersedia sesuai kebutuhan
dan memenuhi persyaratan dan ditata untuk menjamin kemudahan serta
keselamatan kerja.

a. Laboratorium pakan alami seperti laboratorium fytoplankton berguna
sebagai tempat kultur murni plankton yang ditempatkan pada lokasi dekat
hatchery yang memerlukan ruangan suhu rendah yakni 22~25 0C.

b. Laboratorium kering termasuk laboratorium kimia/mikrobialogi, sebaiknya
dibangun berdekatan dengan bak pemeliharaan larva berguna sebagai
bangunan stok kultur dan penyimpanan plankton dengan suhu sekitar
22~25 0C serta dalam ruangan.

Untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran hasil dilengkapi dengan
fasilitas ruang pengepakan yang dilengpaki dengan sistimpemipaan air tawar
dan air laut, udara serta sarana lainnya seperti peti kedap air, kardus, bak
plastik, karet dan oksigen murni. Alat angkut roda dua dan empat yang
berfungsi untuk memperlancar pekerjaan dan pengangkutan hasil benih
harus tersedia tetap dalam keadaan baik dan siap pakai.

Untuk pembangkit tenaga listrik atau penyimpanan peralatan dilengkapi dengan pasilitas ruang genset dan bengkel, ruang pompa air dan blower, ruang pendingin dan gudang.
3) Sarana Pelengkap
Sarana pelengkap dalam kegiatan perbenihan terdiri dari ruang kantor,
perpustakaan, alat tulis menulis, mesin ketik, komputer, ruang serbaguna,
ruang makan, ruang pertemuan, tempat tinggal staf dan karyawan.

5. TEKNIK PEMELIHARAN
1) Persiapan Opersional.
a. Sarana yang digunakan memenuhi persyaratan higienis, siap dipakai
dan bebas cemaran. Bak-bak sebelum digunakan dibersihkan atau dicuci
dengan sabun detergen dan disikat lalu dikeringkan 2-3 hari.
Pembersihan bak dapat juga dilakukan dengan cara membasuh bagian
dalam bak kain yang dicelupkan ke dalam chlorine 150 ppm (150 mil
larutan chlorine 10% dalam 1 m3 air) dan didiamkan selama 1~2 jam dan
dinetralisir dengan larutan Natrium thiosulfat dengan dosis 40 ppm atau
desinfektan lain yi formalin 50 ppm. Menyiapkan suku cadang seperti
pompa, genset dan blower untuk mengantisipasi kerusakan pada saat
proses produksi.

b. Menyiapkan bahan makanan induk dan larva pupuk fytoplankton, bahan
kimia yang tersedia cukup sesuai jumlah dan persyaratan mutu untuk
tiap tahap pembenihan.

c. Menyiapkan tenaga pembenihan yang terampil, disiplin dan
berpengalaman dan mampu menguasai bidang kerjanya.

2) Pengadaan Induk.
a. Umur induk antara 4~5 tahun yang beratnya lebih dari 4 kg/ekor.
b. Pengangkutan induk jarak jauh menggunakan bak plastik. Atau serat
kaca dilengkapi aerasi dan diisi air bersalinitas rendah (10~15)ppt, serta
suhu 24~25 0C.  Atau serat kaca dilengkapi aerasi dan diisi air
barsalinitas rendah (10~15) ppt, serta suhu 24~25 0C.

c. Kepadatan induk selama pengangkutan lebih dari 18 jam, 5~7 kg/m3 air.
Kedalaman air dalam bak sekitar 50 cm dan permukaan bak ditutup
untuk mereduksi penetrasi cahaya dan panas.

d. Aklimatisasi dengan salinitas sama dengan pada saat pengangkutan
atau sampai selaput mata yang tadinya keruh menjadi bening kembali.
Setelah selesai aklimatisasi salinitas segera dinaikan dengan cara mengalirkan air laut dan mematikan pasok air tawar

3) Pemeliharaan Induk
a. Induk berbobot 4~6 kg/ekor dipelihara pada kepadatan satu ekor per 2~4
m3 dalam bak berbentuk bundar yang dilengkapi aerasi sampai
kedalaman 2 meter.

b. Pergantian air 150 % per hari dan sisa makanan disiphon setiap 3 hari
sekali. Ukuran bak induk lebih besar dari 30 ton.

c. Pemberian pakan dengan kandungan protein sekitar 35 % dan lemak
6~8 % diberikan 2~3 % dari bobot bio per hari diberikan 2 kali per hari yaitu pagi dan masa sore
d. Salinitas 30~35 ppt, oksigen terlarut . 5 ppm, amoniak < 0,01 ppm, asam
belerang < 0,001 ppm, nirit < 1,0 ppm, pH; 7~85 suhu 27~33 0C.
4) Pemilihan Induk
a. Berat induk lebih dari 5 kg atau panjang antara 55~60 cm, bersisik
bersih, cerah dan tidak banyak terkelupas serta mampu berenang cepat.
b. Pemeriksaan jenis kelamin dilakukan dengan cara mem-bius ikan
dengan 2 phenoxyethanol dosis 200~300 ppm. Setelah ikan melemah
kanula dimasukan ke-lubang kelamin sedalam 20~40 cm tergantung dari
panjang ikan dan dihisap. Pemijahan (striping) dapat juga dilakukan
terutama untuk induk jantan.
c. Diameter telur yang diperoleh melalui kanulasi dapat digunakan untuk
menentukan tingkat kematangan gonad. Induk yang mengandung telur
berdiameter lebih dari 750 mikron sudah siap untuk dipijahkan.
d. Induk jantan yang siap dipijahkan adalah yang mengandung sperma
tingkat III yaitu pejantan yang mengeluarkan sperma cupuk banyak
sewaktu dipijat dari bagian perut kearah lubang kelamin.
5) Pematangan Gonad
a. Hormon dari luar dapat dilibatkan dalam  proses metabolisme yang
berkaitan dengan kegiatan reproduksi dengan cara penyuntikan dan
implantasi menggunakan implanter khusus. Jenis hormon yang lazim
digunakan untuk mengacu pematangan gonad dan pemijahan bandeng
LHRH –a, 17 alpha methiltestoteron dan HCG.

b. Implantasi pelet hormon dilakukan setiap bulan pada pagi hari saat
pemantauan perkembangan gonad induk jantan maupun betina
dilakukan LHRH-a dan 17 alpha methiltestoteren masing-masing dengan
dosis 100~200 mikron per ekor (berat induk 3,5 sampai 7 kg).

6) Pemijahan Alami.
a. Ukuran bak induk 30-100 ton dengan kedalaman 1,5-3,0 meter
berbentuk bulat dilengkapi aerasi kuat menggunakan “diffuser” sampai
dasar bak serta ditutup dengan jaring.

b. Pergantian air minimal 150 % setiap hari.
c. Kepadatan tidak lebih dari satu induk per 2-4 m3 air.
d. Pemijahan umumnya pada malam hari. Induk jantan mengeluarkan
sperma dan induk betina mengeluarkan telur sehingga fertilisasi terjadi
secara eksternal.
7) Pemijahan Buatan.
a. Pemijahan buatan dilakukan melalui rangsangan hormonal. Hormon
berbentuk cair diberikan pada saat induk jantan dan betina sudah
matang gonad sedang hormon berbentuk padat diberikan setiap bulan
(implantasi).

b. Induk bandeng akan memijah setelah 2-15 kali implantasi tergantung dari
tingkat kematangan gonad. Hormonyang digunakan untuk implantasi
biasanya LHRH –a dan 17 alpha methyltestoterone pada dosis masing-
masing 100-200 mikron per ekor induk (> 4 Kg beratnya).

c. Pemijahan induk betina yang mengandung telur berdiameter lebih dari
750 mikron atau induk jantan yang mengandung sperma tingkat tiga
dapat dipercepat dengan penyuntikan hormon LHRH- a pada dosis
5.000-10.000IU per Kg berat tubuh.

d. Volume bak 10-20 kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat terbuat dari
serat kaca atau beton ditutup dengan jaring dihindarkan dari kilasan
cahaya pada malam hari untuk mencegah induk meloncat keluar tangki.

8) Penanganan Telur.
a. Telur ikan bandeng yang dibuahi berwarna transparan, mengapung pada
salinitas > 30 ppt, sedang tidak dibuahi akan tenggelam dan berwarna
putih keruh.
b. Selama inkubasi, telur harus diaerasi yang cukup hingga telur pada
tingkat embrio. Sesaat sebelum telur dipindahkan aerasi dihentikan.
Selanjutnya telur yang mengapung dipindahkan secara hati-hati ke
dalam bak penetasan/perawatan larva. Kepadatan telur yang ideal dalam
bak penetasan antara 20-30 butir per liter.
c. Masa kritis telur terjadi antara 4-8 jam setelah pembuahan. Dalam
keadaan tersebut penanganan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk
menghindarkan benturan antar telur yang dapat mengakibatkan
menurunnya daya tetas telur. Pengangkatan telur pada fase ini belum
bisa dilakukan.
d. Setelah telur dipanen dilakukan desinfeksi telur yang menggunakan
larutan formalin 40 % selama 10-15 menit untuk menghindarkan telur
dari bakteri, penyakit dan parasit.
9) Pemeliharaan Larva.
a. Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310
C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan kedalam bak tidak
kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem
aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm batu aerasi.

b. Larva umur 0-2 htelur sebagai cadangan makanannya. Setelah hari kedua setelah
ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa
pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi
nener. dari kebutuhan makananya masih dipenuhi oleh kuning

c. Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva
yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara
pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air
10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen.

d. Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4
sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan
yang diberikan dan kualitas air pemeluharan perlu terus dipertahankan
pada kisaran optimal.

e. Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-
16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25
hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.

10) Pemberian Makanan Alami
a. Menjelang umur 2-3 hari atau 60-72 jam setelah menetas, larva sudah
harus diberi rotifera (Brachionus plicatilis) sebagai makanan sedang air
media diperkaya chlorella sp sebagai makanan rotifera dan pengurai
metabolit.

b. Kepadatan rotifera pada awal pemberian 5-10 ind/ml dan meningkat
jumlahnya sampai 15-20 ind/ml mulai umur larva  mencapai 10 hari.
Berdasarkan kepadatan larva 40 ekor/liter, jumlah chlorella : rotifer : larva
= 2.500.000: 250 : 1 pada awal pemeliharaan atau sebelum 10 hari
setelah menetas, atau  = 5.000.000 : 500:1 mulai hari ke 10 setelah
menetas.
c. Pakan buatan (artificial feed) diberikan apabila jumlah rotifera tidak
mencukupi pada saat larva berumur lebih dari 10 hari (Lampiran VIII.2).
Sedangkan penambahan Naupli artemia tidak mutlak diberikan
tergantung dari kesediaan makanan alami yang ada.

d. Perbandingan yang baik antara pakan alami dan pakan buatan bagi larva
bandeng 1 : 1 dalam satuan jumlah partikel. Pakan buatan yang
diberikan sebaiknya berukuran sesuai dengan bukaan mulut larva pada
tiap tingkat umur dan mengandung protein sekitar 52%. Berupa. Pakan
buatan komersial yang biasa diberikan untuk larva udang dapat
digunakan sebagai pakan larva bandeng.

11) Budidaya Chlorella
Kepadatan chlorella yang dihasilkan harus mampu mendukung produksi
larva yang dikehendaki dalam kaitan dengan ratio volume yang digunakan
dan ketepatan waktu.

Wadah pemeliharaan chlorella skala kecil menggunakan botol kaca/plastik
yang tembus cahaya volume 3-10 liter yang berada dalam ruangan bersih
dengan suhu 23-25 0C, sedangkan untuk skala besar  menggunkan wadah
serat kaca volume 0,5-20 ton dan diletakkan di luar ruangan sehingga
langsung dengan kepadatan ± 10 juta sel/m3.

Panen chlorella dilakukan dengan cara memompa, dialirkan ke tangki-
tangki pemeliharaan rotifera dan larva bandeng. Pompa yang digunakan
sebaiknya pompa benam (submersible) untuk menjamin aliran yang
sempurna. Pembuangan dan sebelumnya telah disiapkan wadah
penampungan serta saringan yang bermata jaring 60-70 mikron, berukuran
40x40x50 cm, di bawah aliran tersebut. Rotifer yang tertampung pada
saringan dipindahkan ke wadah lain dan dihitung kepadatanya per
milimeter.

12) Budidaya Rotifera.
Budidaya rotifera skala besar (HL) sebaiknya dilakukan dengan cara panen
harian yaitu sebagian hasil panen disisakan untuk bibit dalam budidaya
berikutnya (daily partial harvest). Sedangkan dilakukan dengan cara panen
penuh harian (batch harvest).

Kepadatan awal bibit (inokulum) sebaiknya lebih dari 30 individu/ml dan
jumlahnya disesuaikan dengan volume kultur, biasanya sepersepuluh dari
volume wadah.

Wadah pemeliharaan rotifer menggunakan tangki serat kaca volume  1-10
ton diletakkan terpisah jauh dari bak chrollela untuk mencegah
kemungkinan mencemari kultur chlorella dan sebaiknya beratap untuk
mengurangi intensitas cahaya matahari yang dapat mempercepat
pertumbuhan chlorella.

Keberhasilan budidaya rotifera berkaitan dengan ketersediaan chlorella
atau Tetraselmis yang merupakan makanannya. Sebaiknya perbandingan
jumlah chlorella dan rotifer berkisar 100.000 : 1 untuk mempertahankan
kepadatan rotifer 100 individu/ml. Pada kasus-kasus tertentu
perkembangan populasi rotifer dapat dipacu dengan penambahan air tawar
sampai 23 ppt. Apalagi jumlah chlorella tidak mencukupi dapat digunakan
ragi (yeast) pada dosis 30 mg/1.000.000 rotifer.

Panen rotifer dilakukan dengan cara membuka saluran pembuangan dan
sebelumnya telah disiapkan wadah penampungan serta jaringan yang
bermata jaring 60-70 mikro berukuran 40x40x50 cm, di bawah aliran
tersebut. Rotifer yang tertampung pada saringan dipindahkan ke wadah lain
dan dihitung kepadatannya per milimeter.

Pencatatan tentang perkembangan rotifer dilakukan secara teratur dan
berkala serta data hasil pengamatan dicatat untuk mengetahui
perkembangan populasi serta cermat dan untuk bahan pertimbangan
pemeliharaan berikutnya.

6. PANEN
1) Panen dan Distribusi Telur.
Dengan memanfaatkan arus air dalam tangki pemijahan, telur yang telah
dibuahi dapat dikumpulkan dalam bak penampungan telur berukuran
1x5,5x0,5 m yang dilengkapi saringan berukuran 40x40x50 cm, biasa disebut
egg collector, yang ditempatkan di bawah ujung luar saluran pembuangan.

Pemanenan telur dari bak penampungan dapat dilakukan dengan
menggunakan plankton net berukuran mata 200-300 mikron dengan cara
diserok. Telur yang terambil dipindahkan ke dalam akuarium volume 30-100
liter, diareasi selama 15-30 menit dan didesinfeksi dengan formalin 40 %
pada dosis 10 ppm selama 10-15 menit sebelum diseleksi.

Sortasi telur dilakukan dengan cara meningkatkan salinitas air sampai 40 ppt
dan menghentikan aerasi. Telur yang baik terapung atau melayang dan yang
tidak baik mengendap. Persentasi telur yang baik untuk pemeliharaan
selanjutnya harus lebih dari 50 %. Kalau persentasi yang baik kurang dari 50
%, sebaiknya telur dibuang.

Telur yang baik hasil sortasi dipindahkan kedalam pemeliharaan larva atau
dipersiapkan untuk didistribusikan ke konsumen yang memerlukan dan
masih berada pada jarak yang dapat dijangkau sebelum telur menetas ( ± 12
jam).

2) Distribusi Telur.
Pengangkutan telur dapat dilakukan secara tertutup menggunakan kantong
plastik berukuran 40x60 cm, dengan ketebalan 0,05 – 0,08 mm yang diisi air
dan oksigen murni dengan  perbandingan volume 1:2 dan dipak dalam kotak
styrofoam. Makin lama transportasi dilakukan disarankan makin banyak
oksigen yang harus ditambahkan.

Kepadatan maksimal untuk lama angkut 8 – 16 jam pada suhu air antara 20
– 25 0C berkisar 7.500-10.000 butir/liter. Suhu air dapat dipertahankan tetap
rendah dengan cara menempatkan es dalam kotak di luar kantong plastik.
Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mencegah telur
menetas selama transportasi.

Ditempat tujuan, sebelum kantong plastik pengangkut dibuka sebaiknya
dilakukan penyamaan suhu air lainnya. Apabila kondisi air dalam kantong
dan diluar kantong sama maka telur dapat segera dicurahkan ke luar.

3) Panen dan Distribusi Nener.
Pemanenen sebaiknya diawali dengan pengurangan volume air, dalam
tangki benih kemudian diikuti dengan menggunakan alat panen yang dapat
disesuaikan dengan ukuran nener, memenuhi persyaratan hygienis dan
ekonomis. Serok yang digunakan untuk memanen benih harus dibuat dari
bahan yang halus dan lunak berukuran mata jaring 0,05 mm (gambar XI.3)
supaya tidak melukai nener.

Nener tidak perlu diberi pakan sebelum dipanen untuk mencegah
penumpukan metabolit yang dapat menghasilkan amoniak dan mengurangi
oksigen terlarut secara nyata dalam wadah pengangkutan.

4) Panen dan Distribusi Induk.
Panen induk harus diperhatikan kondisi pasang surut air dalam kondisi air
surut volume air tambak dikurangi, kemudian diikuti penangkapan dengan
alat jaring yang disesuaikan ukuran induk, dilakukan oleh tenaga yang
terampil serta cermat. Seser / serok penangkap sebaiknya berukuran mata
jaring 1 cm agar tidak melukai induk.

Pemindahan induk dari tambak harus menggunakan kantong plastik yang
kuat, diberi oksigen serta suhu air dibuat rendah supaya induk tidak luka dan
mengurangi stress.

Pengangkutan induk dapat menggunakan kantong plastik, serat gelas ukuran
2 m3, oksigen murni selama distribusi.
Kepadatan induk dalam wadah 10 ekor/m3 tergantung lama transportasi.
Suhu rendah antara 25 – 27 0C dan salinitas rendah antara 10-15 ppt dapat
mengurangi metabolisme dan stress akibat transportasi.
Aklimatisasi induk setelah transportasi sangat dianjurkan untuk mempercepat
kondisi induk pulih kembali.

7. ANALISA USAHA
Contoh Analisa Usaha Penbenihan Lengkap Bandeng.
Modal yang Diperlukan  (Data April 1997).
1) Biaya Investasi.
a. Tanah 1 Ha @ Rp 35.000,- Rp.  35.000.000,-
b. Konstruksi :
- 4 Bak Induk Vol. 100 Ton @ Rp 15.000,- Rp. 600.000,-
- 20 Bak larva vol 5 ton @ Rp 750,- Rp.15.000.000,-
- 4 Bak plankton vol 5 ton @ Rp 750,- Rp. 3.000.000,-
- 5 Bak plankton vol 20 ton @ Rp 2.000 Rp.10.000.000,-
- 4 Bak rotifera vol 5 @ Rp 750 Rp. 3.000.000,-
- 20 Botol plankton vol 10 liter @ Rp 3.000,- Rp. 60.000,-
- Bak bius vol 1 ton @ Rp 400,- Rp. 400.000,-
- 2 Bak penampungan induk vol 3 ton @ Rp 750,- Rp.    1.500.000,-
- 1 set alat lab. (mikroskop,timbangan,Induce,implamenter dll)  Rp.  15.000.000,-
- 1 unit Genset & Instalasi Rp.25.000.000,-
- 1 unit Pompa & instalasi Rp.15.000.000,-
- 1 unit Blower & instalasi Rp. 5.000.000,-
- 1 unit Blower & instalasi Rp. 5.000.000,-
- 1 unit AC Rp. 3.000.000,-
Jumlah Biaya Investasi Rp.206.000.000,-
c. Prasarana Pokok.
- Bangunan tempat pemeliharaan larva Rp. 20.000.000,-
- Lab. Plankton (alga)   Rp.  5.000.000,-
- Rumah karyawan Rp. 25.000.000,-
- Ruang panen   Rp. 10.000.000,-
- Ruang makan Rp. 10.000.000,-
- Kantor Rp.  5.000.000,-
- Rumah jaga Rp.  1.000.000,-
- Rumah genset dan blower Rp.  1.000.000,-
- Gudang Rp.  5.000.000,-
- Refrigerator/Freezer Rp.  1.000.000,-
Jumlah Biaya Sarana Pokok Rp. 83.000.000,-
Jumlah Biaya Investasi (a+b+c) Rp. 288.000.000,-
a. Biaya tetap.
- Biaya perawatan 5% dari investasi Rp. 14.448.000,-
- Penyusutan 10% dari investasi  Rp. 31.645.000,-
- Bunga modal 15% tahun   Rp. 43.344.000,-
- Ijin usaha Rp.  2.000.000,-
Jumlah biaya tetap   Rp. 106.000.000,-
b. Biaya tidak tetap.
- Pengadaan induk 50 ekor @ Rp. 300.000,- Rp. 15.000.000,-
- Pakan, induk 3%x5x50x360x1.000 Rp.  2.700.000,-
- Larva, pupuk   Rp.  5.000.000,-
- Hormon, bius, alkohol, formalin Rp. 15.000.000,-
- BBM : solar; 10x4x360xRp.380 Rp. 32.000.000,-
- Olie ; 8x4x12xRp 4.000,-   Rp.  1.536.000,-
- Gaji karyawan : * tenaga ahli 1x12x500   Rp.  6.000.000,-
* pekerja 10x12x100   Rp. 12.000.000,-
- Biaya tak terduga   Rp. 10.000.000,
Jumlah biaya tidak tetap. Rp.100.068.000,-
Jumlah total biaya operasional/tahun (a + b) Rp.205.505.000,-

3. Penerimaan per tahun.
a. Produksi telur : 20 induk selama 6 bulan (20x300.000x6 bulan) = 36.000.000 butir telur.
b. Tingkat  kelangsungan hidup 20 %. 7.200.000 benih
c. Harga jual/ekor Rp.20,- Rp. 144.000.000,-
d. Jumlah penerimaan selama 1 tahun Rp. 288.000.000,-
4) Analisa Biaya dan Manfaat
a. Penerimaan kotor (III-II) Rp.  82.495.000,-
b. Pajak 10% dari penerimaan kotor   Rp.   8.249.500,-
c. Perputaran uang sebelum dipotong Pajak (IV,1 & II A2/ Penyusutan Rp. 114.140.000,-
d. Pendapatan bersih= (IV.3-IV.2) Rp. 105.890.500,-
e. Jangka waktu pengambilan modal Investasi =2,7 tahun
f. Imbangan penerimaan biaya (R/C ratio)= 3) : 2)  1,4
g. Biaya produksi  per PL
Total Biaya operasional =   205.505.00=   Rp 13,70
Pembelian induk                15.000.000

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

Welcome to SpesiesIkan.blogspot.com