Translate This Blog - 翻译此博客

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

SeaFood

Tuesday, May 25, 2010

Spesies Ikan : Pedoman Penyakit Ikan Laut

PEDOMAN TEKNIS PENANGGULANGAN PENYAKIT IKAN BUDIDAYA LAUT

1. PENDAHULUAN
Dalam rangka mendukung peningkatan produksi perikanan, khususnya ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti: kakap putih, kerapu,
beronang, rumput laut dan jenis ikan laut lainnya, akhir-akhir ini sedang digalakkan pembudidayaannya dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan laut tersebut, terdapat pula beberapa masalah yang mengganggu, sehingga menghambat
perkembangan usaha budidaya, yaitu hama dan penyakit ikan. Apabila keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi lebih awal, maka kegiatan
budidaya ikan laut akan terganggu, akibatnya ikan akan menurun karena tingkat kematiannya tinggi.

Untuk menghindari hal tersebut perlu diupayakan pencegahan dan pengobatan terhadap hama dan penyakit ikan. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa tidak semua penyebab kematian dikarenakan penyakit, maka dalam menangani masalah ini, tindakan penanggulangannya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar tidak menimbulkan kesalahan yang merugikan.


2. JENIS PENYAKIT
1) Penyakit pada kulit
Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir. Tanda ini terlihat jelas
pada ikan yang berwarna gelap. Penyakit yang disebabkan oleh jamur menimbulkan bercak-bercak warna kelabu, putih atau kehitam-hitaman pada kulit ikan. Ikan yang menderita
penyakit kulit kadang-kadang menggosok-gosokkan badannya pada suatu
benda di dalam air.

2) Penyakit pada insang
Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang mengembang dan lembaran-
lembaran insang pucat. Pada lembaran-lembaran insang terlihat bintik
merah yang disebabkan oleh pendarahan kecil (peradangan). Jika terdapat
bintik-bintik putih pada insang, hal ini diebabkan oleh parasit kecil yang
menempel pada tempat tersebut.

3) Penyakit pada organ (alat-alat dalam)
Perut ikan membengkak dengan sisik-sisik ikan berdiri (penyakit dropsy),
dapat juga sebaliknya, perut menjadi sangat kurus. Kotoran ikan berdarah,
menandakan adanya radang usus. Penyakit pada gelembung renang,
menyebabkan ikan berenang terjungkir balik karena terganggunya
keseimbangan badan.


3. PENYEBAB PENYAKIT
1) Non Parasit
a. Faktor-faktor kimia dan fisika, antara lain:
- Perubahan salinitas air secara mendadak;
- pH yang terlalu rendah (air asam), dan pH yang terlalu tinggi (air basa/alkalis);
- Kekurangan oksigen dalam air;
- Zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya);
- Perubahan suhu air yang mendadak;
- Kerusakan mekanis (luka-luka);
- Perairan terkena polusi.

b. Makanan yang tidak baik :
- Kekurangan vitamin dan komposisi gizi yang buruk;
- Bahan makanan yang busuk dan mengandung kuman-kuman.

c. Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan.

d. Stres
Stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada
ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikkan batas
keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya.
Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat
beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/transportasi
ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam jaring apung di laut dari tempat
pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan
mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.

e. Kepadatan Ikan
Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity)
akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi
rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga
dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan
penyakit.

2) Parasit (Pathogen)
a. Pengertian :
Parasit atau panthogen adalah organisme dalam bentuk hewan atau
tumbuh-tumbuhan atas pengorbanan dari induk emangnya (hewan atau
tumbuh-tumbuhan lain). Parasit dapat berkembang dan menyebabkan
infeksi yang dapat menularkan penyakit itu sendiri.

b. Penyebab penyakit :
- Crustacea/udang renik
-Protozoa
- Jamur
-Bakteri
-Virus

4. PENGOBATAN PENYAKIT

1) Non parasit
a. Pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit non parasit adalah :

- Lingkungan harus baik
Lingkungan, terutama sifat fisika, kimia biologi perairan akan sangat
mempengaruhi keseimbangan antara ikan sebagai inang dan oranisme
penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya
tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan
menyebabkan ikan mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh
terhadap serangan penyakit non parasit.

- Kepadatan ikan yang seimbang
Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying cpacity)
akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut
menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti amoniak akan meningkat
seperti amoniak akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres
dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.

- Makanan yang seimbang
Pemberian makanan yang kurang bermutu dapat menyebabkan
kekurangan vitamin yang diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau
menurunnya daya tahan ikan sehingga mudah untuk terserang suatu
penyakit, disamping tingkat pemberian pakan dan kualitas makanan
juga akan mempengaruhi sistem kekebalan.

b. Pengobatan yang bisa dilakukan :
- Melalui suntikan dengan antibiotika.
- Melalui makanan. Perendaman.
- Penyemprotan dengan tekanan tinggi.

2) Parasit
Beberapa macam parasit ikan dan pengobatannya :

a. Crustacea
Beberapa jenis crustacea yang sudah diketahui sebagai parasit ikan
diantaranya adalah copepoda dan isopoda. Salah satu jenis copepoda
ialah : Argasilus sp didapati biasa menyerang pada ikan laut yang
dipelihara. Untuk jenis isopoda yang biasa terdapat dan merupakan
parasit ikan adalah Nirocila sp. Nirocila sp menyerang berbagai jenis ikan
laut yang dipelihara, terutama terhadap ikan berukuran di atas 50 gram.
Binatang ini mempunyai duri pengait pada kakinya sehingga dapat
menempel dengan kuat pada insang atau di bagian sisi tubuh ikan yang
diserang. Serangan pada bagian insang ini bisa mengakibatkan borok
karena jaringan daging pada insang dimakan oleh parasit tersebut.
Nirocila sp tergolong binatang vivaparous. Telur yang dihasilkan dierami
dan anak yang menetas tumbuh dan berkembang di dalam kantong yang
terletak di bawah perutnya.

Nirocila muda kemudian dilepaskan dan berenang bebas yang kemudian
dapat menginfeksi ikan yang lain. Nirocila sp adalah protandrous di mana
pada waktu muda mereka berkelamin jantan dan berubah menjadi betina
pada waktu dewasa (matang).

Nirocila sp tahan terhadap kebanyakan pestisida seperti Dipterex,
Matathion dan Hhyrethroids syntetic. Organophospat DDVP cukup aman
dan efektif untuk pemberantasan parasit ini, namun jarang terdapat dalam
bentuk yang masih murni.

Pengobatan dan pencegahan
Untuk mengatasi serangan parasit ini disarankan memakai formalin
dengan cara sbb :

- Angkat jaring apung dan simpanlah ikan-ikan yang terserang di dalam bak/tank.
- Semprotkan formalin 1% ke jaring tersebut.
- Tambahkan formalin (200 ppm) ke dalam bak sampai parasit tersebut
lepas dari tubuh ikan dan

- Keluarkan parasit-parasit tersebut dan musnahkan.
Biasanya serangan Nirocila sp dewasa (ukuran 2 - 3 cm) jarang berakibat
serius. Serangan parasit dewasa mudah terlihat sewaktu dilakukan
grading, sehingga dengan mudah dapat diambil dengan tangan untuk
kemudian dimusnahkan.

b. Cacing Pipih
Dectylogyrussp kadang-kadang ditemui menyerang ikan laut. Yang paling
sering ditemukan menyerang ikan laut adalah Diplectanum sp.
Bentuk parasit ini adalah sbb : mempunyai dua buah mata, ada alat
penghisap (sucker) pada bagian depan dan belakang. Bagian belakang
berbentuk seperti martil dengan bentuk seperti jangkar pada tiap
ujungnya, bagian dalam perut seperti usus dan alat kelamin jelas terlihat.
Parasit ini mempunyai panjang antara 0,5 - 1,0 dan memangsa sel-sel
epithel insang ikan yang diserang.

Ikan yang terserang parasit ini atau jenis-jenis parasit lain yang
menyerang insang cenderung untuk berenang ke arah air yang berarus
kuat atau berenang miring di mana terlihat berbaring dengan insang
terbuka lebar dan bergerak cepat. Biasanya serangan parasit ini sering
bersamaan pula dengan serangan bakteri vibriosis. Insang ikan yang
terserang kelihatan pucat dan mengeluarkan lendir yang berlebihan
seperti pada penyakit cryptocoryoniasis. Apabila kondisinya sudah
sedemikian parah, pengobatan akan percuma.

Pencegahan dan pengobatan
- Pengobatan harus dilakukan secepatnya pada saat ikan kelihatan mulai terserang penyakit ini, dengan cara sbb :

- Menggunakan formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam dengan
aerasi yang kuat, ulangi sampai 3 hari.
- Menggunakan formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama
semalam perendaman.
- Menggunakan acriflavina 10 ppm 1 jam atau 100 ppm dicelupkan
selama 1 menit.
- Menggunakan dipterex 20 ppm selama 1 jam.
- Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk Kakap Putih
dan Kerapu Lumpur).

c. Protozoa
Protozoa merupakan pathogen yang paling utama bagi usaha budidaya
laut. Protozoa merupakan jazad renik bersel satu dengan ukuran yang
bervariasi antara 10 - 500 mikron. Parasit protozoa umumnya mempunyai bulu/cilia di sekeliling tubuhnya. Parasit pada budidaya ikan laut yang disebabkan oleh protozoa dapat
digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu : Cryptocaryoniasis, Brooklynelliasis
dan Trichadiniasis.

Cryptocaryoniasis
Penyakit ini paling umum dijumpai pada budidaya laut yang disebabkan
oleh protozoa. Organisme penyebabnya adalah Cryptocaryon irritans
Brown, dijumpai secara luas seperti halnya Ichthyophthirius multifilis
yang terdapat di air tawar. Pada stadium belum dewasa binatang ini
cenderung berbentuk seperti buah pear. Bagian mulut (Cryclostomum)
terlihat seperti pada ganbar 5 dimana terlihat sedang memangsa sel
daging ikan.

Pemangsaan yang terus menerus kadang-kadang menyebabkan
kerusakan pada kulit atau insang. Stadia "trophont" berbentuk seperti
bola dengan garis tengah sekitar 300 mikron, terbungkus oleh bulu-bulu
halus/cilia. Ikan Kerapu Lumpur dapat terserang penyakit bintik putih seperti
terserang Ichtyophthirius multifilis. Bintik putih terlihat berbentuk titik
yang masuk cukup dalam. Dalam hal-hal tertentu di mana serangan
penyakit ini ditunggangi oleh serangan bakteri maka akan timbul borok
pada bagian yang terserang.

Ikan Kakap dan jenis ikan lain yang bersisik besar jarang terlihat bahwa
tersebut terserang penyakti bintik putih. Ikan-ikan tersebut akan
kehilangan nafsu makan, matanya membengkak, sisik-sisiknya lepas,
kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan
bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.
Pada ikan Lutjanus (jenis Goden Snaper) kepala merupakan bagian
yang paling rawan terhadap serangan parasit ini, yang kadang sampai
sisik pada kepala bagian atas dan tutup insang mengelupas yang
kemudian terlihat botak.

Insang pada ikan yang terserang parasit ini akan rusak dan tidak
berfungsi. Keluarnya lendir yang berlebihan biaanya tidak sehebat
seperti pada serangan parasit Diplectanum sp.

Penyakit yang paling sering dijumpai pada ikan-ikan dan sangat susah
diberantas ini sesebabkan oleh protozoa yang bersarang pada lapisan
lendir kulit dan sirip ikan, serata merusak lapisan insang. Binatang
yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa ini, pada
selaput ikan bergerombol sampai berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus
jumlahnya, hingga dapat terlihat sebagai bintik-bintik putih. Karena itu
biasa disebut White spot.

Protozoa ini merusak sel-sel lendir ikan, dan dapat menyebabkan
pendarahan, yang sering terlihat pada sirip dan insang ikan. Siklus
hidup parasit ini sangat penting untuk diketahui, oleh karena itu segala
cara pemberantasannya, pada dasarnya ialah memutuskan rantai
kehidupan.

Sesudah 8 hari hidup pada ikan parasit ini sudah cukup dewasa untuk
melangsungkan diri dari tubuh ikan, dan melayang-layang dalam air
untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia melekatkan diri pada suatu
benda, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, gangang, dan sebagainya serta
membentuk suatu lapisan kulit yang terlihat sebagai lendir. Bentuk
demikian disebut cyste. Parasit ini dalam cyste membelah diri.
Dalam waktu 5 jam (lamanya tergantung suhu), terbentuklah beribu-ribu
protozoa kecil-kecil. Kemudian dinding cyste itu pecah, lalu
berhamburlah anak-anak parasit tersebut, melayang-layang dalam air,
siap untuk menyerang ikan. Apabila dalam waktu 48 jam mereka tidak dapat menemukan ikan-ikan untuk ditempelinya maka anak-anak parasit itu akan mati. Jika ada
ikan, mereka segera menempel dan tumbuh pada selaput lendir ikan.
Pada selaput lendir ikan, parasit protozoa ini hidup terbungkus oleh
selaput sel lendir. Obat-obat pemberantas tidak dapat meresap ke
dalam parasit dalam keadaan tersebut, tanpa merusak selaput lendir
ikan yang bersangkutan juga. Karena itu fase pre cyste, adalah fase
yang mudah dikenai obat tanpa merusak ikan yang bersangkutan.
Demikian juga cyste ketika benih parasit ini sudah keluar dari cyste.
Sedangkan pada fase cyste, penyakit ini juga tidak tertembus oleh obat,
karena berdinding lendir. Terhadap penyakit ini tindakan yang lebih penting ialah pencegahan.
Hal ini dilakukan dengan menciptakan suasana kesegaran dan
kesehatan bagi ikan, sehingga ikan mempunyai daya tahan yang besar
terhadap penyakit ini. Caranya ialah dengan memilih lokasi di mana air
dapat selalu berganti lewat arus yang cukup.

Pencegahan dan pengobatan
Penanggulangan parasit ini cukup sulit. Stadia tomont berbentuk kista
sangat tahan terhadap obat-obatan, sedangkan stadia trophonts
seringkali masuk cukup dalam ke jaring daging ikan. Namun demikian
perlakuan seperti tersebut di bawah ini dan telah banyak memberikan
hasil yaitu :

* Celupkan ke dalam formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam
tergantung kepada daya tahan ikan.
* Celupkan ke dalam formalin 100 ppm dan acriflavin 10 ppm selama 1
jam.
* Celupkan dalam campuran formalin 25 ppm dan malachite green
0,15 ppm selama 12 jam.
* Menggunakan nitrofurazone 30 ppm selama 12 jam.
* Menggunakan methyllene blue 0,1 ppm selama setengah jam.
* Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk ikan kakap
dan kerapu lumpur).

Perlakuan tersebut diulangi 2 sampai 3 kali. Pengobatan juga dapat
dilakukan dengan percampuran obat dalam ransum makanan, yaitu
menggunakan metronidozone 5 gram untuk setiap kilogram makanan
selama 10 hari.

Berdasarkan hasil percobaan, gejala penyakit cryptocaryoniasis akan
terlihat dalam waktu 5 hari setelah ikan sehat diolesi insang dari ikan
yang sakit. Tindakan yang perlu diambil untuk menanggulangi penyakit
ini adalah sebagai berikut :
* Isolasi ikan-ikan yan ternyata sakit khususnya benih/gelondongan
sejauh mungkin dari ikan-ikan yang sehat.
* Ambil ikan-ikan yang mati atau sakit parah dari keramba untuk
kemudian dimusnahkan.
* Lakukan pengobatan sedini mungkin (begitu terlihat tanda-tanda ada
ikan yang terserang penyakit ini) untuk memotong siklus hidup
penyakit ini dan jangan sampai menjadi stadia kista serta
terbentuknya tomite (stadia muda dan berenang bebas dari Cryptocaryon irritans).

- Brooklynelliasis
Penyakit ini disebabkan oleh Brooklynela sp, suatu protozoa berbentuk
seperti kacang mirip dengan Chilodonella sp. mudah dikenal dengan
adanya bulu rambut (cilia) yang panjang, sebuah macronucleus dan
kantong berbentuk oval yang terlihat jelas. Brooklynela sp irritans,
namun jenis ikan yang bisa terserang lebih sedikit.

Parasit ini dijumpai di bagian insang dan kulit dari ikan yang terserang.
Tanda-tandanya penyakit yang ditimbulkan sama dengan penyerangan
Cryptocaryon irritans, hanya saja jarang terjadi kerusakan kulit ikan
yang terserang. Luka yang ditimbulkannya lebih tersebar dan terjadi
pendarahan pada kulit bagian dalam.

Pendarahan ini kemungkinan disebabkan oleh kesengajaan ikan
menggesek-gesekkan badannya ke jaring atau wadah budidaya lainnya
yang diakibatkan gatal akibat serangan parasit ini pada bagian kulit.
Pencegahan dan pengobatan

Pemberantasan parasit ini dapat dilakukan seperti pada seangan
parasit Cryptocaryon irritans. Keberhasilan upaya pemberantasan


dapat dilihat dengan pengamatan di bawah mikroskop terhadap
preparat usapan (smear) pada ikan yang diobati. Serangan penyakit
sekunder seperti kebusukan sirip dapat dicegah dengan pengobatan
menggunakan acriflavine atau pemandian mengunakan antibiotic.

- Trychodiniasis
Penyakit Trychodiniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh
Trichodina sp suatu protozoa bebrbentuk cakram dengan diameter
sekitar 100 mikron dengan "gigi-gigi" yang terdapat di bagian tengah
dan cilia pada bagian permukaan bawah. Pemberantasan/pencegahan penyakit ini dapat dilakukan seperti terhadap serangan "Cryptocaryoniasis" atau "Brooklynelliasis".

d. Jamur
Jamur merupakan tumbuhan sederhana yang tidak membutuhkan cahaya
untuk tumbuh, tetapi memakan bahan organik untuk mendapatkan
energinya. Jamur dapat menyebabkan penyakit bila tumbuh pada organisme hidup
termasuk ikan. Dewasa ini ada dua penyakit ikan yang berasal dari jamur,
yaitu : Saprolegniasis dan Ichthyosporidosis.

- Saproleniasis
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang disebut Saprolegnia sp.
Serangan jamur ini menyebabkan perubahan warna pada kulit dan
tumbuh jamur putih keabu-abuan yang makin lama makin melebar, dan
menyebabkan kerusakan pada otot. Ikan-ikan yang sakit tersebut
sebaiknya diambil dari kurungan pemeliharaan. Penyakit ini jarang
sekali ditemukan dan tidak mudah menyerang ikan yang dalam
keadaan sehat.

Penyakit ini terutama menyerang ikan kakap putih pada bagian sirip
punggung dan melebar ke arah sirip ekor.
Pencegahan dan pengobatan
Pengobatan dapat dicoba dengan jalan diolesi :
* Larutan yodium Tincture 0,1%
* Larutan Potassium Dichromat 1%
Atau perendaman dengan menggunakan :
* Methylene blew 0,1 PPM, selama kira-kira 1 jam dan diulangi selama 3 hari.

- Ichthyosporidosis
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ichthyos poridium sp
(Ichthyophonus sp). Jamur ini berkembang mengikis jaringan luar
bagian kepala dan menyebabkan luka yan dalam yang berwarna
kemerah-merahan dan dapat masuk ke dalam sampai ke bagian
tengkorak kepala ikan. Kadang-kadang juga ditemukan di bawah kulit
dan jaringan epitel kulit dari jaringan organ yang penting misalnya
insang, usus, hati dan jantung dalam bentuk gumpalan granula.
Biasanya terdapat pada ikan kerapu dan berkembang lambat karena
penyakit ini terutama teramati pada ikan-ikan atau ukuran pasar.
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang manjur terhadap penyakit
ini. Beberapa jenis antibiotik yang biasa terdapat di pasaran kurang
mempan menghadapi penyakit ini. Untuk itu dapat dihindari dengan
jalan menjaga makanan dari ikan rucah yang diberikan agar bersih dan
tidak ada gumpalan-gumpalan penyakit di bagian kulitnya atau di
bagian lain.

e. Bakteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri merupakan penyakit yang paling
umum dijumpai pada usaha budidaya ikan laut.
Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari
sel-sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Biasa terdapat di udara,
dalam tanah maupun dalam air dan benda padat lainnya. Sebagian besar
bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit. Namun bakteri
mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, sehingga
apabila bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri ini
bermacam-macam jenisnya. Yang menyerang manusia, berbeda dengan
jenis yang menyerang ikan dan tumbuh-tumbuhan. Tetapi ada pula jenis-
jenis yang dapat menyerang manusia dan hewan sekaligus.
Ikan yang terserang oleh bakteri dapat memperlihatkan gejala yang
berbeda-beda. Jika bakterinya menyerang kerusakan-kerusakan pada
kulit yang terlihat seperti kena api (luka bakar), seperti kudis/borok yang
membusuk. Infeksi bakteri biasanya timbul apabila ikan menderita stres. Kematian
banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri
yang menyebabkan infeksi. Penyakit bakteri merupakan jenis yang
terbanyak didapati pada usaha budidaya ikan di laut. YC. Chong (1986)
menyebutkan bahwa di perairan Siangapura terdapat 3 kelompok utama
penyakit yang disebabkan oleh bakteri, yaitu : pembusukan sirip/ekor,
Vibriosis dan Streptococcosis.

- Pembusukan sirip/ekor (Bakteri Fin Rot)
Bakteri ini biasanya menyerang sirip-sirip, terutama sirip ekor dan dapat
mengakibatkan luka dan pengelupasan kulit. Ikan-ikan yang terserang
penyakit ini akan menalami luka/kerusakan pada bagian tepi dan sirip-
siripnya, termasuk sirip ekor dan akan terkikis secara tidak teratur.
Bahkan tidak jarang terjadi sirip yang terserang akan tinggal bagian
pengkalnya saja. Jika diamati pada bagian yang terkena penyakit atau
bagian yang luka hanya sedikit terdapat protozoa, tetapi diketemukan
banyak sekali populasi bakteri yang terdiri dari bakteri Mycobacter sp.
Vibrio sp, jenis-jenis Pseudomonas dan Cocci gram positif.
Diperkitakan bahwa kerusakan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh
serangan bakteri dengan populasi yang sangat padat. Bakteri ini
mudah menular lewat luka-luka ikan yang lain akibat sentuhan ekor
yang sakit. Bakteri yang paling dominan adalah Vibro sp karena
mempunyai kemampuan yang baik untuk hidup di air laut dan
pertumbuhannya untuk membentuk koloni lebih cepat dibandingkan
dengan bakteri yang lain. Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, tetapi yang
menjadikan bahaya justru infeksi sekunder jenis bakteri lain yang dapat
memperparah penyakit tersebut dan menyebabkan kematian ikan.
Pencegahan dan pengobatan Pencegahan dapat dilakukan dengan jalan perendaman ikan yang sakit ke dalam bak air dengan menggunakan :
* Nitrofurozone 15 ppm, selama 3 - 4 jam.
* Suplhonamide 50 ppm, selama 3 - 4 jam.
* Neomycin sulphate 50 ppm, selama 1 - 2 jam.
* Chloramphenicol 50 ppm, selama 1 - 2 jam.
* Acriflavine 100 ppm, selama 1 menit.

Sesudah pengobatan, tempatkan ikan ke dalam kurungan yang bersih
dengan kepadatan yang rendah dan aliran air yang baik, atau pada bak
dengan penambahan aerasi secukupnya.

- Vibriosis
Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp.
Bakteri Vibrio sp termasuk kelompok bakteri yang heterogen dan gram
negatif. Ada 2 bakteri penting yang diketahui menyerang ikan laut yaitu
: V. alginolyticus dan V. parahaemollyticus. Vibriosisi merupakan
penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya
serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Dari percobaan yang dilakukan terhadap bakteri yang diisolasikan dari
ikan kerapu dan kakap putih yang sakit, ternyata bakteri ini tidak
mampu membuat ikan menjadi sakit vibriosis setelah dilakukan
penyuntikan dengan bakteri tersebut.

Terkecuali apabila dosisnya tinggi. Ikan kerapu yang terkena Vibriosisi
akaibat suntikan bakteri tersebut, akan mengalami perubahan warna
kulit menjadi lebih gelap dan daerah bekas suntikan akan menjadi
borok. Selanjutnya akan terjadi pendarahan pada bagian peritonial dan
ginjalnya akan rusak. Pengamatan di alapangan juga menunjukkan
gejala ikan kurang nafsu makan, busuk sirip dan akumulasi cairan di
bagian abdomen.

Pencegahan dan pengobatan
Beberapa pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan antara lain :
* Menggunakan Oxytetracycline sebanyak 0,5 garam per kg makanan
ikan selama 7 hari.
* Menggunakan Sulphonamides 0,5 gram per kg makanan ikan selama 7 hari.
* Chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat makanan ikan selama 4 hari.
Apabila ikan tak mau makan, cobalah pengobatan dengan perendaman sbb :
Nitrofurozon 15 ppm, selama lebih kurang 4 jam.
Sulphonamides 50 ppm, selama lebih kurang 4 jam.

- Streptococcus
bakteri dari genus Streptococcus ini kadang-kadang menyebabkan
penyakit pada ikan laut yang dibudidayakan, seperti ikan kerapu merah
dan ikan beronang. Tanda-tanda dari infeksi penyakit ini biasanya tidak
jelas, namun ikan terkadang terlihat lesu, tidak sehat, berenang tidak
teratur dan pendarahan pada cornea. Biasanya penyakit ini diamati
lewat pemerikasaan laboratories. Streptococcus sp termasuk bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati
infeksi bakteri yang lain. Pencegahan dan pengobatan Berikut adalah perlakuan pengobatan yang disarankan tes sensitivitas antibiotik.

* Amphicilin 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 2 hari.
* Oxytetracycline 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 7 hari.
* Erythromycin estolate 1,0 gram per kg makanan untuk 5 hari.

Dapat juga menggunakan penicilin 3.000 unit per kg berat ikan yang
disuntik secara intramascullar.

f. Virus
Virus adalah patogen yang paling kecil. Ukurannya lebih kecil dari
seperduapuluh kali besarnya bakteri. Virus menyerang mahluk hidup,
berkembangbiak di dalam organisme inang dan pada saat itulah dia akan
menyebabkan kerusakan ataupun penyakit pada organisme inang.
Virus sangat tahan terhadap segala jenis obat-obatan. Oleh karena itu,
pemberantasan penyakit yang disebabkan oleh virus lebih ditekankan
kepada upaya pencegahan dan membatasi penularannya. Salah satu
virus yang telah diketahui menyerang ikan pada budidaya di laut adalah
penyakit Symphocystis. Penyakit Lymphocystis disebabkan oleh serangan virus yang termasuk
famili Iridovirus. Virus Lymphocytis berbentuk partikel berbidang banyak dengan sekitar
0,13 - 0,26 mikron. Terdiri dari inti DNA yang dibungkus oleh lapisan
protein. Infeksi pada ikan yang terserang menyebabkan tumbuhnya sel jaringan.
Sel yang dikenal menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang dikenal
dengan nama Lymphocystis menyerupai butiran sagu. Kelompok dari sel
tersebut membentuk tumor pada kulit dan sirip.
Ikan kakap putih merupakan ikan yang sangat rawan terhadap serangan
virus ini. Virus ini juga terbukti sangat mudah menular dengan
menggunakan air sebagai media penularannya. Oleh karena itu, ikan
yang terserang harus segera dipindahkan dan dipisahkan dari ikan yang
sehat. Pada dasarnya, penyakit yang diakibatkan virus belum dapat
ditanggulangi secara pasti. Namun demikian pencegahan dapat dilakukan
dengan jalan vaksinasi dengan obat antibiotik. Masalahnya adalah hingga
saat ini, obat/vaksinasi untuk penyakit ini belum tersedia atau sulit
didapatkan di pasaran.

0 komentar: