Showing posts with label Budidaya Ikan. Show all posts

Tuesday, August 8, 2017

Wednesday, April 12, 2017

thumbnail

Spesies udang baru

Foto ini diterima dari Federal University of Goias, menunjukkan spesies baru udang piston dengan capit merah, yang dinobatkan sebagai sepesies 'Synalpheus pinkfloydi' dalam deskripsi ilmiah dari spesies. spesies udang yang baru ditemukan dengan capit  merah muda cerah dan kemampuan untuk menghasilkan salah satu suara paling keras di laut yang menjadi inspirasi nama band legendaris Inggris Pink Floyd, ahli zoologi mengungkapkan.



Wednesday, January 4, 2012

thumbnail

Pembenihan Ikan Baronang


 

1. PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Ikan baronang adalah salah satu jenis komoditas yang potensial untuk
dikembangkan mengingat harganya yang cukup mahal. Saat ini sudah
banyak masyarakat yang membudidaya-kannya dengan menggunakan benih
dari alam. Sejak tahun 1988 ikan baronang sudah dapat dibenihkan dengan
berbagai upaya baik secara alami maupun penggunaan hormon dan
stripping.
2) Persyaratan Lokasi
a. Sumber air laut bersih dan jernih sepanjang tahun.
b. Bebas dari pencemaran.
c. Dasar perairan laut berpasir atau berkarang.
d. Dekat dengan lokasi pemasaran/pemasok induk


2. TEKNIK PEMBENIHAN
1) Bahan
a. Induk ikan jantan dan betina perbandingannya 1 : 1.
b. Bak pemijahan.
c. Bak penetasan.
d. Bak pemeliharaan larva.

2) Seleksi Induk
Induk yang matang telur hasil pembesaran dalam kurungan apung
dipindahkan ke dalam bak-bak pemijahan dengan volume air + 3 m3.

3) Metoda Pemijahan

Metoda yang digunakan adalah pemijahan alami, pemijahan dengan
rangsangan rangsangan hormon dan pemijahan dengan stripping.
a. Pemijahan alami
Induk ikan baronang umumnya memijah pada bulan gelap, waktu memijah
sekitar petang menjelang malam atau dinihari menjelang subuh. Ikan
baronang memijah umumnya pada bulan Pebruari s/d September.
b. Pemijahan dengan hormon
Induk ikan yang sudah matang telur dirangsang untuk memijah dengan
suntikan hormon gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU dan
induk jantan disuntik dengan 250 MU (mouse unit). Biasanya setelah 6 -8
jam ikan akan memijah.
c. Pemijahan dengan stripping
Stripping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara
basah.
c.1. Cara kering
Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma
jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/bulu bebek,
kemudian dibiarkan selama + 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air
laut yang telah disaring dan disterilisasi, baru telur dipindahkan ke bak
penetasan.
c.2. Cara basah
Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah
disterilisasi dan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan
dipindahkan ke dalam bak penetasan.

 A. Pengambilan Sperma
B. Pengambilan telur
dengan cara stripping
C. Pencampuran sperma
dan telur
D. Diaduk dengan bulu
ayam/bebek
E. Pencucian telur
F. Pencucian dengan air
mengalir dalam plankton
net



 
Gambar 1.  Pemijahan
4) Penetasan Telur
a. Persiapan
Bak penetasan disiapkan dengan dibersihkan menggunakan bahan kimia
chlorin dengan dosis 200 ppm. Kualitas air seperti oksigen, pH, salintas,
suhu, kecerahan, kandungan gas dan logam berat harus dijaga agar tidak
melebihi batas ambangnya.
b. Penetasan
Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 22 - 24 jam pada suhu air
26 - 280 C. Telur yang tidak dibuahi akan tenggelam ke dasar bak.
5) Pemeliharaan Larva
Larva yang dirawat dengan seksama terutama sesudah kuning telurnya
habis. Pada tahap ini larva diberi pakan hidup alami berupa chlorella sp,
rotifera dan daging ikan yang dicincang.

Dari beberapa macam jenis jasad pakan tersebut tidak diberikan secara
bersamaan melainkan disusun menurut jadwal yang tertentu sesuai dengan
perkembangan larva.


6) Pengelolaan Kualitas Air
Air laut untuk pemeliharaan larva adalah air laut yang sudah mengalami
beberapa saringan, pertama melalui saringan pasir kemudian saringan
millipore yang berdiameter 10 dan 15 mikron.
Pembersihan tangki harus dilakukan secara periodik dengan menggunakan
siphon (pipa plastik), larva telah berumur antara 7 - 20 hari, dasar tangki
harus dibersihkan setiap 2 hari sekali, bila larva berumur di atas 21 hari
pembersihan dasar tangki dilakukan setiap hari.

Sunday, December 18, 2011

thumbnail

Tips Membesarkan Ikan bawal air tawar


1. PENDAHULUAN
Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan ukuran
konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan bawal
dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara
monokultur maupun polikultur. Bawal air tawar saat ini banyak diminati sebagai
ikan konsumsi dan cocok untuk dibudidayakan di Kabupaten Magelang.
Ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan antara lain :
- Pertumbuhannya cukup cepat
- Nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (OMNIVORA) yang condong lebih banyak makan dedaunan
- Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik
- Disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan Gurami
2. PERSIAPAN KOLAM
Kolam untuk pemeliharaan ikan bawal dipersiapkan seperti halnya ikan air
tawar lainnya. Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan
alami dalam jumlah yang cukup.
1) Mula-mula kolam dikeringkan sehingga tanah dasarnya benar-benar kering.
Tujuan pengeringan tanah dasar antara lain :
a. Membasmi ikan-ikan liar yang bersifat predator atau kompetitor (penyaing
makanan).
b. Mengurangi senyawa-senyawa asam sulfida (H2S) dan senyawa beracun
lainnya yang terbentuk selama kolam terendam.
c. Memungkinkan terjadinya pertukaran udara (aerasi) dipelataran kolam,
dalam proses ini gas-gas oksigen (02) mengisi celah-celah dan pori-pori tanah.
2) Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan
diperkuat untuk menutup kebocoran-kebocoran yang ada.
3) Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan
kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi. Hal


ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama
maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.
4) Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan
ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan.
Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg/100 m2
dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar
yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.
5) Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan
dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedidit demi sedikit
sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120
cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih
ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).
3. PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH.
1) Pemilihan benih.
a. Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik
ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik.
b. Adapun ciri-ciri benih yang baik antara lain Sehat, Anggota tubuh lengkap,
Aktif bergerak, Ukuran seragam, tidak cacat, Tidak membawa penyakit, jenis unggul.

2) Penebaran benih
Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan
tidak dalam kondisi stress saat berada dalam kolam. Cara adaptasi : ikan
yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan
kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun. Ini tandanya air
kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka
plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam
plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya
benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan.

4. KUALITAS PAKAN DAN CARA PEMBERIAN
Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena
hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai
dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq
mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta
vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang
diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5
% berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian
pakan dapat ditebar secara langsung.

5. PEMUNGUTAN HASIL
Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal
dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang
lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m2. Biasanya alat yang
digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya
penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan
airnya selalu mengalir.

Friday, October 28, 2011

thumbnail

Budidaya Ikan Nila


1. SEJARAH SINGKAT
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh
memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal
dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke
negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di
wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai
oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan
kakap merah.

Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian
Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan
adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia.
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui
Direktur Jenderal Perikanan.

2. SENTRA PERIKANAN
Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.

3. JENIS
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila
albino.

4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

5. PERSYARATAN LOKASI
a) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

b) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

c) Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).

d) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat
pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya
plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau
kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan
plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan
air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang
disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka
kecerahan yang baik antara 20-35 cm.

e) Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang
dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air
arus deras.

f) Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5.
Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
g) Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
h) Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila
tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).


Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila
antara lain:

a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan
Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam
induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air
berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam
sebaiknya berpasir.
b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,
pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
c) Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
1. Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan
selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara
2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.
Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab
benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi
gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua
atau langsung dijual kepada pera petani.
2. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih
gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.
Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/meter persegi.
3. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan
kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
d) Kolam/tempat pemberokan
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa
berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran
hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang
sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan
pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam
dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-
1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),

cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan
diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan
ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan
jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat
melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau
kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari
alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk
menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap
ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet
(untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser
(gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Bibit dan Induk
Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:
a) Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas
yang tinggi.
b) Pertumbuhannya sangat cepat.
c) Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
d) Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
e) Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
f) Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per
ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan

Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a) Betina
1. Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang
pengeluaran telur dan lubang urine.
2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
3. Warna perut lebih putih.
4. Warna dagu putih.
5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b) Jantan
1. Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang
sperma merangkap lubang urine.
2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
3. Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
4. Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan.
Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya,
kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak
lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar
dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan.
Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode
kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang
dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila
betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:
a) Secara manual (dipilih)
b) Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
c) Merangsang perubahan seks dengan hormon
d) Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.
1. Perendaman
2. Perlakuan hormon melalui pakan
2) Pembenihan dan Pemeliharaan Benih
Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :
a) Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan burayak
(anak ikan).
b) Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih ikan yang
lebih besar.
Usaha pembenihan biasanya menghasilkan benih yang berbeda-beda
ukurannya. Hal ini berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih
ikan nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut "benih kebul". Benih
yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut
juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil
dipelihara di kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu

akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih
ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu,
ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-
1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-12 cm dengan
berat 15-20 gram. Benih ini disebut gelondongan besar.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar
kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan
dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai
teriadi kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang
saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur
untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya. Untuk mi
dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas,
Ca 0). Kalau dipakai kapur pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk
kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk
kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat
tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap,
kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi
mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-
100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan.
1) Pemupukan
Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta
kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar
yang ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan
tingkat kesuburan di tiap daerah.
Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan
dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam
dicangkul dan diratakan.
Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-150 kg/ha.
Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan
juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk
organik sebanyak 300-1.000 kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan
sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih
dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam.
Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar
terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han
kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari
semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu fitoplankton
mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi
kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme

renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput
dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75-
100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada
saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk
itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam
keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush
di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Sedangkan yang dua
keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam.
Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam
kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk sedikit demi
sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang
dipancangkan di dasar kolam. Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke
dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan
katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau
sawah yang diberakan.
2) Pemberian Pakan
Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton,
maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik
nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila.
Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang
mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.
Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di
dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan
taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan
tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakan
induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa
maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya.
Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam
kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat
biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram =
594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak
mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik
untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak
halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu
juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.
3) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila tergantung pada tempat
pemeliharaan dan input yang tersedia.Target produksi harus disesuaikan
dengan permintaan pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan


ukuran ikan yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,
yaitu
a) Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)
- Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang belum
berkembang. Input produksinya sangat sederhana. Biasanya dilakukan
di kolam air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan
tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan biasanya
kolam pekarangan yang sempit. Hasil ikannya hanya untuk konsumsi
keluarga sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini
telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.
- Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa
bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur limbah
pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.).
- Perkiraan pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat
dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenar
cukup lumayan, karena pemanenannya bertahap. Untuk kolam
herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 20 ruang
berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan
kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem ini dapat
mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian air kolam
menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali.
b) Sistem semi-Intensif (teknologi madya)
- Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di tambak, di
sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk
pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan
pemberian pakan tambahan yang teratur.
- Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik sehingga kolam dapat
berproduksi 2-3 kali per tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat
dilakukan secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya
membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan tanaman
padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil ikan dan sawah
ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun kalau benih yang dipelihara
sudah berupa benih gelondongan besar.
- Budi daya ikan nila secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan
secara monokultur maupun secara polikultur. Pada monokultur
sebaiknya dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan
lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina.
- Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),
artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun
dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak kambing, itik dan
sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi
pupuk untuk kolam.
- Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara
bersama ikan nila. Limbah sayuran menjadi pupuk dan pakan


tambahan bagi ikan. Sedangkan lumpur yang kotor dan kolam ikan
dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.
- Usaha huler/penggilingan padi mempunyai hasil sampingan berupa
dedak dan katul. Oleh karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di
dekat penggilingan tersebut.
- Hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan sistem integrated dapat
menghasilkan ikan sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.
c) Sistem intensif (teknologi maju)
- Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan ikan paling
modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengan
kebutuhan pasar.
- Pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan
pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin
sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap
hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.
- Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara harus tunggal dain
jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu.
- Ransum hariannya 3% dan berat biomassa ikan per hari. makanan
sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.
Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diamati
nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan knya habis dalam waktu 5
menit. Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat
gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit, perubahan kualitas air,
udara panas, terlalu sering diberi pakan.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
a) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
b) Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
c) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup


d) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
e) Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
f) Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7.2. Penyakit
a) Penyakit pada kulit
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh
berlendir. Pengendalian: (1) direndam dalam larutan PK (kalium
permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air,
pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. (2) direndam dalam
Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
b) Penyakit pada insang
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.
c) Penyakit pada organ dalam
Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit. Pengendalian:
sama dengan di atas.
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:
a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu
pemasukan air.
e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
f) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
g) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.


8. PANEN
Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen
sebagian.
a) Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian
air tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m
persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam
penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak
panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan
pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
b) Panen sebagian atau panen selektif
Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen
dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan
waring yang di atasnya telah ditaburi um pan (dedak). Ikan yang tidak terpilih
(biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya
dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm
selama 1 jam.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
a) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
1. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
2. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
3. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
b) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
1. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
2. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
3. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.


3. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
c) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
sebagai berikut:
1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
2. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).

- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-
2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau
formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

Thursday, September 29, 2011

thumbnail

Limbah sawit sebagai Pakan Ikan

Pemanfaatan Limbah Sawit Sebagai Pakan Ikan, Dewasa ini permintaan terhadap produksi perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sekitar 4,6% pada tahun 2003. Disamping itu, adanya wabah flu burung pada unggas pada tahun 2006 menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang cukup aman dikonsumsi. Kenaikan konsumsi ikan oleh masyarakat tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan. Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Disamping itu, bahan baku ini harus mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ekonomis dan tersedia sepanjang waktu.

Limbah dan hasil ikutan industri pertanian seperti Bungkil kelapa sawit (BKS) merupakan sumber baku pakan yang cukup banyak tersedia di Indonesia. BKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan dengan berbagai perlakuan agar dapat dimanfaatkan oleh ikan. Ada dua teknik yang diujicoba dalam perekayasaan ini, yaitu fermentasi BKS aplikasi pada ikan nila dengan tiga pelakuan pakan A (30% BKS fermentasi); pakan B (30% BKS); pakan C (30% bungkil kedelai) dan kultur maggot dari BKS aplikasi pada ikan lele dumbo dengan tiga perlakuan pakan I (100% maggot); pakan II (50% maggot + 50% pakan formula lele); pakan III (100% pakan formula lele. Masing-masing perlakuan dihitung nilai Survival Rate (SR), Feed Conversion Radio (FCR), Spesific Growth Rate (SGR) dan persentase pertambahan berat badan ikan (%W).

Dari hasil perekayasaan ini di dalam hasil pengujian fermentase BKS pada ikan nila untuk pakan A (SR= 68,8%; FCR= 2,76 ; 7,02% ; %W=138%);
pakan B (sr=72,10% ; FCR= 2,19 ; SGR= 7,49% ; %W= 179%);
pakan C (SR=77,03% ; FCR= 1,82 ; SGR= 7,83% ; %W= 222%).
Sedangkan hasil pengujian maggot pada ikan lele dumbo
pakan I (SR= 82,38% ; FCR= 1,62 ; SGR= 18,22% ; %W= 319,89%);
pakan II (SR= 77,50% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%);
pakan II (SR= 63,70% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%) ;
pakan III (SR= 63,70% ; FCR= 1,42 ; SGR= 18,08% ; %W= 261,25%).

Pengujian ikan nila yang beri formulasi paka B relatif lebih baik dari pakan C bila dilihat nilai SR, FCR, SGR, %, tetapi masih lebih kecil dari pakan C yang digunakan sebagai kontrol. Namun perekayasaan ini sudah mengindikasi bahwa BKS dapat dijadikan sebagai bahan baku pakan ikan.

Pengujian ikan lele dumbo yang diberi pakan II mempunyai FCR lebih baik dibandingkan dengan pakan I dan III. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pakan campuran antara maggot 50% dengan pakan formulasi mempunyai pengaruh yang positif.

Monday, September 19, 2011

thumbnail

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG
Budidaya ikan laut di jaring apung (floating cages) di Indonesia trgolong masih
baru. Perkembangan budidaya secara nyata baru terlihat pada sekitar tahun
1989 yang ditandai dengan keberhasilan UPT Perikanan melaksanakan
pemijahan / pembenihan sekaligus pembesaran ikan Kakap Putih (Lates
calcarifer, Bloch) di daerah Lampung untuk tujuan komersial.

Upaya pengembangan budidaa ikan laut, terutama dalam rangka menunjang
pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan perikanan Pelita VI nampak
cukup cerah karena disamping didukung oleh potensi sumberdaya yang cukup
besar tersebar di beberapa Propinsi seperti; Riau, Sumatera Selatan, Lampung,
Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, S ulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan
Maluku, juga didukung oleh semakin berkembangnya pemasaran ikan laut ke
luar negeri (ekspor) maupun lokal. Berkaitan dengan upaya pengembangan
budidaya laut melalui pembuatan buku Petunjuk Teknis Budidaya ikan laut
merupakan sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan petani nelayan.


2. PERSYARATAN LOKASI
Ketepatan pemilihan lokasi adalah salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan usaha budidaya ikan laut. Karena laut yang dimanfaatkan sebagai
lahan budidaya merupakan wilayah yang penggunaannya melibatkan sektor
lain (Common property) seperti; perhubungan, pariwisata, dan lain-lain, maka
perhatian terhadap persyaratan lokasi tidak hanya terbatas pada faktor-faktor
yang berkaitan dengan kelayakan teknis budidaya melainkan juga faktor
kebijaksanaan pemanfaatannya dalam kaitan dengan kepentingan lintas sektor.
Dalam kaitan dengan hal tersebut, Departemen Pertanian telah mengeluarkan
Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Budidaya Laut (SK. Mentan No.
473/Kpts./Um/7/1982).

Agar pemilihan lokasi dapat memenuhi persyarataan teknis sekaligus terhindar
dari kemingkinan pengaruh penurunan daya dukung lingkungan akibat
pemanfaatan perairan di sekitarnya oleh kegiatan lain, maka lokasi yang dipilih
adalah yang memenuhi kriteria, sebagai berikut:


3. JENIS IKAN
Jenis-jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan dipilih berdasarkan potensi
sumber daya yang ada jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan serta
teknologinya yang sudah dikuasai/dihasilkan sendiri di Indonesia, guna untuk
menghindari resiko kegagalan yang besar.
Jenis-jenis ikan yang dimaksud adalah Kerapu Lumpur (Epinephalus tauvina),
Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch), Kakap Merah (Lutjanus malabaricus, Bloch & Schaider).
Berikut di bawah ini disajikan biologi beberapa jenis ikan yang dapat
dibudidayakan secara praktis.


Ikan Kurapu Lumpur


Ikan Kakap Putih


Ikan Tambangan (Lutjanus)

4. PERSIAPAN SARANA BUDIDAYA
1) Kerangka/rakit
Kerangka berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan, dapat terbuat dari
bahab bambu, kayu, besi bercat anti karat atau paralon. Bahan yang
dianjurkan adalah bahan yang relatif murah dan mudah didapati di lokasi budidaya.
Bentuk dan ukuran rakit bervariasi tergantung dari ukuran yang digunakan.
Setiap unit kerangka biasanya terdiri atas 4 (empat) buah kurungan.
Konstruksi Kurungan Apung

2) Pelampung
Pelampung berfungsi untuk melampungkan seluruh saran budidaya
termasuk rumah jaga dan benda atau barang lain yang diperlukan untuk
kepentingan pengelolaan.

Bahan pelampung dapat berupa drum plastik/besi atau styrofoam
(pelampung strofoam). Ukuran dan jumlah pelampung yang digunakan
disesuaikan dengan besarnya beban. Sebagai contoh untuk menahan satu
unit kerangka yang terdiri dari empat buah kurungan yang masing-masing
berukuran (3x3x3) m3 diperlukan pelampung drum plastik/drum besi volume
200 liter sebanyak 9 buah, atau 11 buah dengan perhitungan 2 buah, untuk
menahan beban lain (10/4x9) buah ditambah 2 buah untuk menahan beban
tambahan. Pelampung diikat dengan tali polyethyline (PE) yang bergaris
tengah 0,8-1,0 cm. Penempatan pelampung pada kerangka dapat dilihat
pada gambar 5

Gambar 5. Penempatan dan Pemasangan Pelampung pada Kerangka/Rakit

3) Kurungan
Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan, disarankan terbuat dari bahan
polyethline (PE) karena bahan ini disamping tahan terhadap pengaruh
lingkungan juga harganya relatif murah jika dibandingkan dengan bahan-
bahan lainnya. Bentuk kurungan bujur sangkar dengan ukuran (3x3x3)m3.
Ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan.
Untuk ukuran ikan dengan panjang kurang dari 10 cm lebar mata yang
digunakan adalah 8 mm (5/16 inchi). Jika panjang ikan berkisar antara 10-15
cm lebar mata jaring digunakan adalah 25 mm (1 inch), sedangkan untuk
ikan dengan ukuran panjang 15-40 cm atau lebih digunakan lebar mata
jaring ukuran 25-50 mm (1-2 inch).

Pemasangan kurungan pada kerangka dilakukan dengan cara mengikat
ujung tali ris atas pada sudut rakit. Agar kurungan membentuk kubus/kotak
digunakan pemberat yang diikatkan pada keempat sudut tali ris bawah.
Selanjutnya pemberat diikatkan ke kerangka untuk mempermudah pekerjaan
pengangkatan/penggantian kurungan (lihat gambar 4) untuk mencegah
kemungkinan lolosnya ikan atau mencegah serangan hewan pemangsa,
pada bagian atas kurungan sebaiknya diberi tutup dari bahan jaring.


Penempatan dan Pemasangan Kurungan

4) Jangkar
Agar seluruh saran budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh
arus angin maupun gelombang, digunakan jangkar. Jangkar dapat terbuat
dari beton atau besi.

Setiap unit kurungan jaring apung menggunakan 4 buah jangkar dengan
berat antara 25-50 kg. Panjang tali jangkar biasanya 1,5 kali kedalaman
perairan pada waktu pasang tinggi

Gambar 7. Pengaturan dan Pemasangan Jangkar

5. RANCANGAN TATA LETAK KERANGKA JARING APUNG
Pengaturan penempatan kerangka jaring apung harus mengacu kepada
peraturan yang telah dikeluarkan, dalam hal ini Kepres No. 23 Tahun 1982
tentang Pengembangan Budidaya laut di Perairan Indonesia serta Petunjuk
Pelaksanaannya yang telah dikeluarkan Departemen Pertanian.

Berdasarkan petunjuk pelaksanaan tersebut, pihak yang berwenang
melaksanakan pengatuaran penempatan kurungan jaring apung adalah
Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini yang bertindak senagai Instansi
Teknis adalah Dinas Perikanan setempat.

Penempatan kerangka jaring apung diperairan disarankan tidak lebih dari 10
(sepuluh) buah dalam satu rangkaian. Hal ini ditujukan untuk mencegah
terjadinya penumpukan/pengendapan sisa makanan atau kotoran ikan serta
limbah lainnya akibat terhambatnya arus, juga untuk memudahkan pengelolaan
sarana dan ikan peliharaan. Disamping itu, sedapat mungkin penempatan
kerangka mengacu kepada Rancangan Tata Ruang Satuan Pemukiman
(RTSP) untuk memperoleh rancangan menyeluruh yang efisien, memiliki
aksessibilitas yang tinggi serta aman bagi pelaksanaan kegiatan budidaya


Tata Letak kerangka kurungan Jaring Apung

6. PENGELOLAAN KELOMPOK USAHA BERSAMA
1) Pengaturan Pola Tanam
Usaha budidaya laut dengan skala besar selalu dihadapkan dengan kendala
baik pada saat memuai kegiatan dan pengelolaan maupun pemanenan dan
pemasaran hasil. Bentuk kendala dan permasalahan yang ditemui antara lain
berupa sulitnya memenuhi kebutuhan dan penampungan benih, saprodi dan
tenaga kerja serta pelemparan hasil ke pasar. Untuk itu dalam pelaksanaan
kegiatan budidaya skala besar perlu diterapkan pola tanam tertentu.
Alternatif pola tanam yang akan diterapkan oleh setiap KK adalah melakukan


penanaman pada 1 unit kurungan jaring apung yang terdiri dari 4 buah
kurungan pada setiap minggu.

2) Pemasaran Hasil
Pemasaran hasil dari usaha budidaya yang dilakukan petani/nelayan
merupakan tanggung jawab Perusahaan Inti. Pelaksanaan budidaya
(petani/nelayan) bersama Perusahaan Inti menentukan kesepakatan harga
jual hasil panen baik untuk lokal maupun untuk ekspor.

7. PENGELOLAAN SARANA DAN IKAN PELIHARAAN
1) Pengelolaan Sarana
Sarana budidaya berupa kerangka/rakit, kurungan apung, pelampung dan
lain-lain harus mendapat perawatan secara berkala. Kendala yang biasa
terjadi pada budidaya jaring apung ini adalah pengotoran/penempelan oleh
organisme penempel ini seperti teritip , algae, kerang-kerangan dan lain-lain
dapat terjadi pada semua sarana budidaya yang terendam dalam air.

Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan
menyebabkan kurungan bertambah berat. Untuk menanggulangi organisme
penempel ini , dilakukan pembersihan jaring secara periodik paling sedikit 1
bulan sekali atau tergantung pada banyak sedikitnya organisme yang
menempel.

Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa
ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan
algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara
menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.

2) Pengelolaan Ikan
Kegiatan pengelolaan ikan yang dipelihara dikurungan adalah mengontrol
dan mengawasi ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari
terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan
dalam mendapatkan makanan.

Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan
itu terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan,
perlu diperhatikan dan diusahakan jangan sampai terjadi stress (keteganan)
dan kerusakan fisik pada ikan.

8. OPERASIONAL BUDIDAYA
1) Benih
Pemenuhan kebutuhan benih apabila belum dapat dipenuhi dari hasil
pembenihan yang ada, bisa dilakukan dengan cara menangkap dari perairan
di sekitar lokasi budidaya dan untuk itu dapat digunakan alat tangkap seperti
bubu, pukat pantai, sudu atau jala.

Benih alam umumnya memiliki ukuran yang tidak seragam oleh karena itu
kegiatan penggolongan ukuran (grading) perlu dilakukan. Selain itu proses
aklimatisasi/penyesuaian iklim sebelum ikan dibudidayakan perlu dilakukan
untuk menghindarkan kematian akibat pengaruh lingkungan/habitat yang
baru.

Macam2 alat tangkap benih


2) Pendederan
Yang dimaksud dengan pendederan adalah kegiatan pemeliharaan benih
sampai uuran tertentu hingga siap untuk dipelihara dikurungan pembesaran.
Lamanya pendederan tergantung dari ukuran awal, tingkat kepadatan dari
benih yang dipelihara. Sebagai contoh, untuk benih ikan Kakap putih yang
berukuran kurang dari 10 cm dengan padat penebaran 100-150 cm
diperlukan waktu satu bulan pada kurungan pendederan yang memiliki lebar
mata8 mm (5/16 inch). Selanjutnya dipindahkan ke kurungan pendederan


yang memiliki lebar mata 25 mm (1 Inch) dengan kepadatan 40-60 ek/m2
selama 2-3 bulan.
3) Pembesaran
Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-75 gram/ekor dengan panjang
15 cm atau lebih dari hasil pendederan, selanjutnya dipelihara dalam
kurungan pembesaran yang memiliki lebar mata jaring 25-50 mm (1-2 inchi)
dengan kepadatan 15-25 ek/m3 dan waktu pemeliharaan dikurungan
pembesaran berkisar antara 6-8 bulan.


4)Pakan
Pakan adalah salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan
moralitas ikan yang dipelihara. Oleh kjarena itu masalah kuantitas dan
kualitas dari pakan yang diberikan layak dipenuhi.

Ikan rucah (Trash fish) adalah jenis pakan yang biasa diberikan untuk jenis-
jenis ikan laut buas (carnivora) Dalam hal ini ikan Kerapu dan ikan Kakap
yang dipelihara dikurungan apung.

Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran ikan yang
dibudidayakan. Pada tahap pendederan diberikan pakan sebanyak 8-10%
dari total berat badan/hari, sedangkan pada saat pembesaran diberikan
pakan sebanyak 3-5% dari total berat badan/hari.Rasio konversi pakan
(Food Convertion Ratio) yang akan diperoleh adalah 5:1 yang berarti untuk
mendapatkan penambahan berat 1 kg daging ikan diperlukan pakan
sebanyak 5 kg.

Frekuensi pemberian pakan tergantung pada ukuran ikan. Untuk larva dan
glondongan (juvenil), frekuensi pakan yang diberikan adalah 3-4 kali/hari.
Waktu pemberian pakan adalah pada siang hari.

9. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Sejalan dengan perkembangan usaha budidaya ikan di laut, muncul pula
beberapa masalah yang dapat menggangu bahkan menghambat
perkembangan usaha tersebut misalnya hama dan penyakit ikan.
1) Hama
Hama yang menyerang pada usaha budidaya ikan laut lebih banyak
disebabkan oleh hewan pemangsa atau pengganggu lainnya. Hama dapat
menyerang apabila kerusakan pada sistem jaring-jaring yang dipergunakan
sebagai kurungan pemeliharaan ilan. Kerusakan tersebut mengakibatkan


masuknya hewan penggangu atau pemangsa lainnya seperi burung dan
lingsang. Walaupun akibat yang ditimbulkan sangat terbatas atau relatif kecil,
namun hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Termasuk kerugian
akibat adanya pencurian yang dilakukan oleh manusia.

2) Penyakit
Secara umum penyakit dapat diartikan sebagai gangguan dalam fungsi atau
struktur suatu organ atau bagian tubuh. Penyakit timbul dikarenakan satu
atau berbagai sebab baik berasal dari lingkungan maupun dari tubuh ikan itu
sendiri.

Hal-hal yang menyebabkan ikan terserang penyakit adalah:
- Cara perawatan yang kurang baik
- Makanan tidak cukup (giji dan jumlah)
- Kekurangan zat asam
- Perubahan suhu dan sifat-sifat air yang mendadak.

Gejala ikan yang terserang penyakit antara lain: kelainan tingkah laku,
kurang nafsu makan, kelainan bentuk ikan, kelainan pada permukaan tubuh
iakn, Penyakit insang, anus tidak normal, mata tidak normal dll.
Penyakit dapat dibagi menjadi 2 golongan bila dilihat dari penyebabnya.
a. Penyakit non Parasiter: adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-
faktor kimia dan fisika air yang tida cocok bagi ikan seperti: perubahan
salinitas air secara mendadak, polusi dan lain sebagainnya. Selain dari itu
bisa juga disebabkan oleh kekurangan makanan dan gizi yang buruk,
serta stress akibat penanganan yang kurang baik.
b. Penyakit Parasiter: Penyakit yang biasa menyerang ikan budidaya laut
adalah:
- Golongan virus
- Golongan bakteri
- Golongan crustacea
- Golongan cacing
- Golongan Protozoa
- Golongan jamur
Penanganan terhadap ikan sakit dapat dibagi atas 2 langkah yaitu:
a. Berdasarkan teknis budidaya:
Tindakan-tindakan yang dilakukan antara lain:
- menghentikan pemberian pakan terhadap ikan
- mengganti pakan dengan jenis yang lain
- memisah-misahkan ikan tersebut dalam beberapa komponen, sehingga
densitasnya menjadi rendah.
b. Berdasarkan terapi kimia:

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah:
- memeriksa sensifitas dari masing-masing obat yang diberikan pada
ikan.
- memperhatikan batas dari dosis masing-masing obat.
- Tidak memberikan obat sembarangan kepada ikan yang sakit.
Cara pemberian obat:
a. Ditenggelamkan dalam tempat budidaya.
b. Disebarkan pada permukaan air
c. Dicampurkan dalam pakan
d. Dengan cara disuntikan
10. PANEN
Panen dilakukan dan disesuaikan dengan ukuran ikan yang dikehendaki atau
permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 600-800 gram per ekor dibutuhkan
waktu pemeliharaan selama 6-8 bulan dengan survival rate 80-90%. Panen
dilakukan secara total di dalam satu kurungan, bisa juga dilakukan secara
persial tergantung dari ukuran panen yang dikehendaki.

Sunday, September 18, 2011

thumbnail

Pakan Udang ABC



Pakan udang ABC adalah Pakan Udang yang sesuai utk kegiatan Budidaya udang secara Tradisional plus dengan jumlah tebar 5-10 Ekor/M2. Kandungan protein kisaran Min 34%-36%, tersedia dalam 3 Ukuran dari P3-P5. bagi anda yang berminat dengan jenis pakan Udang diatas dapat menghubungi : p.t. Mitra Manggalindo (021-6682077)

Tuesday, September 13, 2011

thumbnail

Pembenihan Kurapu Macan (1)

PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus)

1. PENDAHULUAN
Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah "groupers" dan
merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik
dipasarkan domestik maupun padar internasional dan selain itu nilai jualnya
cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton
pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990).
Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan
karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani
permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.

Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera
konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah
mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui
usaha budidaya.

Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun
dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena
keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan
benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan, Balai Budidaya
Laut Lampung sebagai unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan,
telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan
manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon


2. BIOLOGI
1) Klasifikasi
Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :
Class : Chondrichthyes
Sub class : Ellasmobranchii
Ordo : Percomorphi
Divisi : Perciformes
Famili : Serranidae
Genus : Epinephelus
Species : Epinepheus sp

2) Morfologi, habitat dan kebiasaan makan dan makanannya.
Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan
menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4
baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam
pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah
pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp,
setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari
pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya
"mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai
ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan
krosok), selain itu jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak).

3) Cara berkembang biak.
Di dalam tangki percobaan ikan betina yang telah dewasa bila akan memijah
mendekati jantan. Bila waktu memijah tiba, ikan jantan dan betina akan
berenang bersama-sama dipermukaan air. Pemijahan terjadi pada malam
hari, antara pukul 18.00 sampai pukul 22.00. jumlah telur yang dihasilkan
tergantung dari berat tubuh betina, contoh betina berat 8 kg dapat
menghasilkan telur 1.500.000 butir. Telur yang telah dibuahi bersifat "non
adhesive" yaitu telur yang satu tidak melekat pada telur yang lainnya.
Bentuk telur adalah bulat dan transparan dengan garis tengah sekitar 0,80 -
0,85 mm. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi benih yang aktif
berenang. Benih inilah yang umum tertangkap oleh nelayan. Kelimpahan
benih ikan kerapu ini sepanjang tahun tidak sama. Kelimpahan yang paling
tinggi disekitar Teluk Banten terjadi pada bulan Februari sampai April.

3. TEKNIK PEMBENIHAN
1) Sarana Pembenihan
a. Induk sebanyak 5 ekor betina dan 2 ekor jantan. Induk jantan berukuran
panjang 77 - 78 cm dan berat 9,5 - 11 kg/ekor. Induk betina berukuran
panjang 60 - 70 cm dan berat 5,3 - 7,8 kg/ekor.
b. Pakan induk berupa ikan segar dari jenis selar, japuh dan jantan yang
kandungan proteinnya tinggi dan kandungan lemaknya rendah.
c. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.
d. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton.
e. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang
berukuran 4 x 1 x 1 m3 terbuat dari beton, berbentuk empat persegi
panjang.

2) Metoda
Metoda yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Untuk merangsang
terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin
digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Teknik
pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan
pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-
faktor lingkungan seperti suhu, kadar garam, kedalaman air dan lain-lain.
Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan; pada saat bulan terang atau
bulan gelap.

3) Pemeliharaan Induk
Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung
dengan padat penebaran induk 7,5 - 10 kg/m3. Pakan yang diberikan berupa
ikan rucah segar berkadar lemak rendah. Diluar pemijahan ikan, takaran
pakan yang diberikan sebesar 3 - 5% dari total berat badan ikan/hari,
sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu
diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 - 15 mg/ekor/minggu.

4) Sex reversal
Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni", yaitu pada kehidupan
awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Sel kelamin betina terbentuk
setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel kelamin
betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan
panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Ada kenyataannya lebih
banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin
dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron.
Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap
minggu, diikuti dengan penambahan multivitamin.

Takaran yang diberikan adalah :
Hormon testosteron
2 mg/kg induk
Multivitamin
10 mg/kg induk
5) Seleksi Induk
Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui denan cara
mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar
warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan
kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara
kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan,
kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat
kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron.

6) Pemijahan
a. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang
sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan salinitas + 32 ‰.
b. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara
menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Mulai jam
09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40
cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke
possisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini dilakukan terus menerus
sampai induk memijah secara alami.
c. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan
hormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan Puberogen untuk
merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan
adalah :
HGG 1.000 - 2.000 IU/kg induk
Puberogen 150 - 225 RU/kg induk
d. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai
malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam
22.00 - 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni -
September dan bulan Nopember - Januari.
e. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan
dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.
7) Penetasan telur
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak
pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjang
dengan ukuran 4 x 1 x 1 m3. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak
pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara
dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm

Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat
sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar
garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan
dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 280C.
Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang
dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).
Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin
untuk mencegah serang bakteri.

Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 - 60 butir/liter air media.
Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 -
100.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air.
Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu
27 - 280C dan kadar garam 30 - 32 ‰.
4. PERKEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN LARVA
1) Perkembangan Larva
Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang dan
gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva
akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.
Gambar 2. Perkembangan Bentuk Larva Ikan Kerapu


Adapun perkembangan larva kerapu dari umur 1 hari (D1) sampai umur 31
hari (D31) dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan larva ikan kerapu.

Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8) memasuki
umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan bentuk tubuh
yang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20) larva
berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda
kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari
larva baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya
kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak
terkendali kemudian terbalik lalu mati.

Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia
dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat
diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada
larva kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik
dan kelangsungan hidup larva.

2) Pemeliharaan Larva
Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa
kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah
menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar.
Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan
dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3
ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan
kepadatan antara 5.10 - 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva
berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga
mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 - 2.10 sel/ml media.
Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru
menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan
naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan
peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media.
Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan
Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang
diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan
akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.
Skema jenis dan pemberian pakan larve kerapu dapat dilihat pada Gambar
3. Pemberian pakan dengan cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat
metamorfosa larva sempurna menjadi benih ikan kerapu.


5. PENGELOLAAN KUALITAS AIR
Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva perlu
dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan
kepadatan 5.103 - 104 sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan
yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang
ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada
hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak

menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada
saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 - 10%. Penggantian air
dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air
yang perlu diganti juga semakin banyak.
Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak
20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
Prosentase pengantian air selama pemeliharaan larve kerapu dapat dilihat
pada gambar 4.

Monday, September 5, 2011

thumbnail

Pengawetan Serangga

Keanekaragaman serangga di Indonesia tercatat salah satu yang terbesar di dunia bersama negara latin Brasil. Kekayaan alam ini bisa dimanfaatkan menjadi bisnis yang menarik dan menjanjikan asalkan dilakukan dengan rambu-rambu hukum.

Muchamad Chatim Magfur rupanya melihat jeli peluang ini. Krisis 1998 lalu justru membuat Chatim terdorong membangun bisnis penangkaran serangga seperti kupu-kupu dan kumbang hidup untuk diekspor ke Jepang, Taiwan dan Korea.

Sejalan berjalannya waktu, akhirnya ia memutar kreasi baru dengan mengembangkan produk pengawetan serangga sebagai produk suvenir. Jenisnya macam-macam, mulai dari gantungan kunci, hiasan hingga bingkai serangga kumbang dan kupu seharga puluhan juta rupiah.

"Awalnya dulu saya hanya main di serangga hidup untuk diekspor ke Jepang, banyak serangga yang mati, akhirnya kita buat untuk suvenir. Saya mulai tahun 1998 untuk serangga hidup, suvenir serangga baru tiga tahun ini,"

Ia menuturkan menjalankan bisnis suvenir pengawetan serangga harus mendapat izin dari Kementerian Kehutanan dibidang konservasi. Maklum saja, sebagian serangga yang diawetkan adalah jenis yang dilindungi yang bernilai tinggi asalkan diperoleh dari proses penangkaran atau bukan dari alam bebas. Pasokan serangga ia peroleh dari penangkaran sendiri hingga penangkaran kupu-kupu di Maros Sulawesi Selatan.

Chatim mengaku kini ia lebih fokus menggarap usaha pengawetan serangga ketimbang mengekspor hidup-hidup. Setidaknya ia sudah membuat 16 item produk yang terdiri dari berbagai jenis serangga seperti kupu-kupu, kumbang tanduk, capung, kelabang, kalajengking dan lain-lain.

Menurutnya dengan diolah menjadi suvenir nilai tambah dari produknya bisa melonjak hingga 5 kali lipat. Meskipun ada serangga tertentu yang justru lebih mahal jika dijual masih hidup.

"Yang menarik dari bisnis ini adalah keunikannya, belum banyak yang bermain, pasarnya masih terbuka, ini pasar yang unik. Memang kalau kita tak ngerti kita tak bisa jualan. Ada unsur keilmuannya juga, misalnya soal spesies serangga banyak orang yang tidak tahu, padahal ini dari seluruh Indonesia," katanya

Produk yang ia jual mulai dari Rp 10.000 untuk jenis gantungan kunci sampai jenis serangga langka seharga Rp 25-30 juta di pasar. Para pembelinya umumnya adalah kolektor serangga di Negeri Matahari Terbit.

Bahkan untuk jenis serangga kupu-kupu unik dan langka, sampai ada yang dihargai hingga ratusan juta rupiah. Chatim pun mengaku tetap berpegang pada prinsip aturan hukum konservasi, yaitu serangga-serangga itu harus diperoleh dari proses penanggakaran bukan dari alam bebas.

"Para konsumen pun di luar negeri meminta sertifikat terutama dari pembeli Eropa, ini terkait perjaniian internasional soal spesies serangga yang dilindungi," katanya.

Chatim menuturkan segmen produk suvenir pengawetan serangga ini memang lebih banyak diminati oleh pasar ekspor. Meskipun permintaan pasar dalam negeri cukup tinggi.

"Khusus untuk orang Jepang punya kultur dari dulu kumbang yang menemukan orang Jepang, mereka buat koleksi seperti kupu-kupu, demi kepuasan. Untuk pasar lokal belum optimal," katanya.

Selama ini, Chatim memproduksi suvenirnya tergantung permintaan pasar. Ia bersama 12 karyawannya kini sedang panen permintaan karena secara musiman pada Mei-Juli terjadi order yang tinggi khususnya dari pasar ekspor.

Misalnya untuk produksi gantungan kunci berhias serangga diproduksi 1000-2000 unit per bulan, ini di luar dari produk lainnya. Ia menghitung omset bisnisnya dari permintaan pasar dalam negeri saja mencapai Rp 20-30 juta per bulan.

"Ini di luar permintaan ekspor. kalau ekspor, jumlahnya tak pasti, sampai ratusan juta sekali ekspor," katanya.

Dikatakanny,a permintaan produk suvenir pengawetan serangga relatif stabil. Untuk tetap terus tumbuh, ia pun mengembangkan diversifikasi produk seperti suvenir kaos berlukiskan serangga-serangga cantik.

Sunday, September 4, 2011

thumbnail

Budidaya Ikan MAS


1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang
pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475
sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun
1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas
yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan
Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat
10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
2. SENTRA PERIKANAN
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk,
sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan
umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi,
Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
3. JENIS
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri
dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan
kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik,
bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas
adalah sebagai berikut:

1) Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;
bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit;
perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2) Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih
gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila
diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang
badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3) Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata
pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit;
gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan
panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4) Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif
panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan
lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan
antara 3,5:1.
5) Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik
bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari
warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp,
long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi,
shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku
nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang
berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang
berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang
banyak dibudidayakan.
4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air
deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air
tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras
debitnya 100 liter/menit/m3.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
a. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya.
Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter
persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila
diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200
meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan
dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu
bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang
sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.
Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan
dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa
untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18
m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah
pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai
pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam
penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali
juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam
penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah
yang ada telurnya.
c. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan
dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran
dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah
pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air
sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3) Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk


buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Bibit dan Induk
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin
meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan
maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi
alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan
teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian
kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan
penyeleksian terhadap induk ikan mas.
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang
untuk dipijah adalah sebagai berikut:
a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan:
umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor
mulus, sehat, sirip tidak cacat.
c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak
jernih.
d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih
panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a) Betina
- Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
- Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
b) Jantan
- Badan tampak langsing.
- Gerakan lincah dan gesit.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2) Sistim Pembenihan/Pemijahan
Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:
a. Sistim pemijahan tradisional
Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:
- Cara sunda: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; (2) disediakan injuk untuk menepelkan
telur; (3) setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam
penetasan.
- Cara cimindi: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit
bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari
tanah; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke
kolam lain; (4) tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian
sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
- Cara rancapaku: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu; (2) disediakan
rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di
seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
(4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela
bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
- Cara sumatera: (1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam
sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk
dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di
permukaan air; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan
ke kolam lain; (4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam
pendederan.
- Cara dubish: (1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit
keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi
air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan
merupakan kolam penetasan; (2) sebagai media penempel telur
digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm; (3)
setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4)
setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
- Cara hofer: (1) sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan
tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
b. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur
dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise
ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor
(berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah
suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang

melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana
yang lengkap dan perawatan yang intensif.
3) Pembenihan/Pemijahan
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:
a. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
b. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan
suhu berkisar 25 derajat C.
c. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
d. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan
seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
e. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet
diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran
2-4% dari jumlah berat induk ikan.
4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur
hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.
Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah
benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1
bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang
disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 3-5 cm.
c. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang
disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus
3-5% dari jumlah bobot benih.
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang
disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih
menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%
dari jumlah bobot benih.
5) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan
pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari
selama 3 minggu.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
a) Polikultur
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
b) Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.
1) Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2,
TSP 10 gram/m2, Urea 10 gram/m2, kapur 25-100 gram/m2. Setelah itu kolam
diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam
disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC,
Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas
serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7 hari
kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung
pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka
padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan bila diberi pakan
pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2 (benih lepas hapa).
Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
2) Pemberian Pakan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan
buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang
cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari.
Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban
diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur
rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter
air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada
benih, perawatan 5-7 hari.
3) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak
tercemari/teracuni oleh zat beracun.


7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2) Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
4) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
5) Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
6) Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7) Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau
dibuat bak filter.
8) Belut dan kepiting
Pengendalian: lakukan penangkapan.
7.2. Penyakit
1) Bintik merah (White spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan
badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah
serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam
larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4
cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur
NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.

2) Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung
terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur
kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.
3) Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam
larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam
Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang
berlebihan.
4) Kutu ikan (argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20
gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)
selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.
5) Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam
larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur
yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6) Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan
badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit
dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7) Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip
ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur
oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama
7 hari berturut-turut.
8) Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit
kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu
gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal. Pengendalian:
penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100
mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari
berturut-turut.
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu
pintu pemasukan air.
5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
7) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
8. PANEN
8.1. Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-
alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana
yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus
sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih
sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar
benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih
untuk penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00 pagi dan
sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan
tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam
pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan
tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut
benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam
ember atau keramba.
Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat
diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.
8.2. Cara Perhitungan Benih
Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak
penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara
menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan
menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan,
dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih
biasanya dengan cara:

a) Penghitungan dengan sendok.
b) Penghitungan dengan mangkok.
8.3. Pembersihan
Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada
saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang
lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut,
maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih
ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.
Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yang
telah disiapkan.
8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran
Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen
total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat
berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara
mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak
pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu
pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan.
Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan
secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
1) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.

c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-
2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau
formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.


10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi
alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.
Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh
pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.
Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar
lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak
ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

About

Welcome to SpesiesIkan.blogspot.com